Minyak Turun, Pasar Pantau Diplomasi China dan Risiko Timur Tengah

🏠 Beranda Berita Minyak Turun, Pasar Pantau Diplomasi Chi…

Minyak Turun, Pasar Pantau Diplomasi China dan Risiko Timur Tengah

📅 2026-09-22   🕐   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (18/9) setelah China mendorong Iran untuk membatasi serangan kelompok Houthi kepada infrastruktur minyak Arab Saudi. Harga Brent crude futures ditutup di level US$104,87 per barel, turun US$0,95 atau 0,93%, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$100,30 per barel, melemah US$1,61 atau 1,58%. Penurunan ini terjadi setelah pasar mulai melihat adanya peluang meredanya tekanan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak telah mengalami kenaikan signifikan akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya aktivitas militer kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran. Ketegangan tersebut meningkatkan risiko gangguan kepada jalur energi utama, terutama setelah serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi mengancam salah satu rute ekspor penting kawasan tersebut.

Intervensi diplomatik China memberikan sedikit tekanan turun kepada harga minyak karena investor berharap ketegangan dapat dikendalikan. Namun, kondisi pasar energi masih menghadapi tantangan besar. Gangguan pada kapasitas penyulingan mancanegara turut mendorong kenaikan harga produk energi, terutama diesel. Di Amerika Serikat, harga diesel ritel telah mencapai rekor sekitar US$6,45 per galon, sementara harga bensin berada di sekitar US$4,47 per galon.

Selain risiko geopolitik

Selain risiko geopolitik, pasar juga menghadapi masalah kapasitas produksi dan distribusi. Data dari IIR Energy menyiratkan kapasitas operasi kilang AS diestimasi turun sekitar 371.000 barel per hari pada pekan depan. Kondisi tersebut membuat tekanan harga energi tidak hanya berasal dari pasokan minyak mentah, tetapi juga keterbatasan pengolahan merupakan produk bahan bakar.

Meski harga minyak mulai turun dari level tertinggi hampir empat bulan, ketidakpastian masih membayangi pasar. Jalur Selat Hormuz masih mengalami pembatasan aktivitas pelayaran, sementara kerusakan pada pipa East-West Arab Saudi belum sepenuhnya pulih. Arab Saudi berupaya mengembalikan sekitar setengah kapasitas pipa tersebut dalam beberapa hari, tetapi waktu pemulihan penuh masih belum jelas.

Ulasan Newsmaker: Pelemahan minyak akhir pekan ini lebih mencerminkan berkurangnya tekanan risiko jangka pendek, bukan berakhirnya masalah pasokan. Diplomasi China kepada Iran memberikan harapan stabilisasi, tetapi konflik Timur Tengah dan kondisi jalur energi utama masih merupakan faktor penggerak utama. Selama risiko gangguan di Selat Hormuz dan infrastruktur Saudi belum sepenuhnya pulih, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil di atas level psikologis US$100 per barel.

Disclaimer: artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
📖 Baca juga: Glossarium Trading

By IT EF