Thursday, 22 October 2026 Terdaftar & diawasi Bappebti · Anggota BBJ & KBI
BESTPROFIT SURABAYA NEWS Surabaya · Pialang Berjangka
Info Pasar
Harga & data pasar diperbarui resmi di situs korporat
Data harga real-time → Sumber resmi · bukan ajakan transaksi
NEWS

Minyak Tembus $100, Serangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Minyak Tembus $100, Serangan di Selat Hormuz Kembali Memanas
Minyak Tembus $100, Serangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

🏠 Beranda › Berita › Minyak Tembus $100, Serangan di Selat Ho…

Oil

📅 2026-10-21   🕐 19:28   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Rabu (21/10/2026), dengan minyak West Texas Intermediate (WTI) bergerak mendekati US$100 per barel, level tertinggi sejak 17 September. Penguatan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran kepada keamanan pasokan energi internasional menyusul serangkaian serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Dalam perdagangan Rabu, WTI mencapai naik hingga US$99,95 per barel, sementara minyak Brent menguat mencapai US$110,85 per barel. Ketegangan geopolitik yang belum mereda membuat investor kembali memperhitungkan risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin memanas setelah badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal terkena serangan di dekat perairan Oman. Sementara itu, media pemerintah Iran, IRIB News, menyebut sebuah kapal tanker berukuran besar menghantam ranjau laut di Selat Hormuz. Laporan tersebut meningkatkan kekhawatiran kepada keselamatan jalur pelayaran yang merupakan salah satu pusat perdagangan energi dunia. Iran dilaporkan meningkatkan aktivitas serangannya dalam beberapa pekan terakhir, termasuk insiden yang menyasar bagian mesin kapal. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar biaya pengiriman dan asuransi, meskipun belum seluruh laporan insiden dapat diverifikasi secara independen.

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, aktivitas ekspor minyak Timur Tengah ternyata masih memaparkan ketahanan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai mendekati kondisi sebelum perang. Data pemantauan Kpler dan Vortexa juga menunjukkan ekspor energi dari kawasan Timur Tengah meningkat sejak musim panas, dibantu penggunaan jalur alternatif dan pemindahan muatan antarkapal. Namun, stabilitas tersebut masih rentan kepada serangan lanjutan. Tingginya risiko pelayaran membuat market tetap berhati-hati karena gangguan pada satu jalur distribusi strategis dapat meningkatkan biaya logistik dan memengaruhi harga minyak dunia.

Selain ketegangan geopolitik

Selain ketegangan geopolitik, harga minyak turut mendapatkan dukungan dari ekspektasi penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun sekitar 4,9 juta barel pada pekan sejak lama, mengindikasikan berkurangnya pasokan dalam negeri. Investor kini mencermati laporan persediaan resmi pemerintah AS serta perkembangan keamanan Selat Hormuz untuk menentukan arah harga berikutnya. Jika ancaman gangguan pengiriman terus meningkat dan persediaan minyak AS kembali menyusut, harga minyak berpotensi mempertahankan penguatan. Sebaliknya, kelancaran ekspor Timur Tengah dapat membatasi kenaikan lebih lanjut.

Point of View Newsmaker

Gerakan harga minyak dunia sekarang memperlihatkan bahwa risiko geopolitik masih merupakan penggerak utama market, meskipun pasokan fisik belum mengalami gangguan sebesar yang dikhawatirkan investor. Serangan kepada kapal tanker meningkatkan premi risiko, sementara pemulihan ekspor dari Timur Tengah menjadi faktor penyeimbang yang dapat menahan lonjakan harga lebih tinggi.

Dari sisi teknikal, WTI menghadapi area psikologis US$100 per barel

Dari sisi teknikal, WTI menghadapi area psikologis US$100 per barel. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan menuju US$102–105 dapat terbuka. Sebaliknya, apabila ketegangan mereda dan aliran minyak tetap stabil, harga berpotensi terkoreksi menuju area US$97–95. Kisaran tersebut merupakan skenario tinjauan, bukan kepastian ayunan harga.

Kesimpulan: Minyak masih memiliki kecenderungan bullish dalam jangka pendek, tetapi pemulihan ekspor Timur Tengah dapat membatasi kenaikan. Jika harga minyak bertahan tinggi, risiko inflasi mancanegara berpotensi meningkat dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed. Kondisi ini dapat mendukung dolar AS sekaligus memberikan tekanan kepada emas dan mata uang negara pengimpor energi, termasuk rupiah.(yds)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

📰 Sumber asli: newsmaker

Sumber

Artikel ini mengutip laporan newsmaker . Judul dan penyuntingan disesuaikan untuk pembaca Indonesia.

Peringatan Risiko

Perdagangan berjangka komoditi berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kerugian melebihi dana awal. Materi ini bersifat informasi, bukan rekomendasi atau ajakan bertransaksi.

Berita Terkait

Mulai dari akun demo — tanpa risiko

Latih strategi dengan harga pasar sebelum membuka akun real.