Wednesday, 21 October 2026 Terdaftar & diawasi Bappebti · Anggota BBJ & KBI
BESTPROFIT SURABAYA NEWS Surabaya · Pialang Berjangka
Info Pasar
Harga & data pasar diperbarui resmi di situs korporat
Data harga real-time → Sumber resmi · bukan ajakan transaksi
NEWS

Emas Turun 4 Hari Beruntun, Harga Minyak Jadi Ancaman Baru

Emas Turun 4 Hari Beruntun, Harga Minyak Jadi Ancaman Baru
Emas Turun 4 Hari Beruntun, Harga Minyak Jadi Ancaman Baru

🏠 Beranda › Berita › emas Turun 4 Hari Beruntun, Harga Minyak…

Gold

📅 2026-10-21   🕐 16:44   ⏱️ 3 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga emas dunia kembali merosot pada perdagangan Rabu (21/10/2026), memperpanjang tren penurunan selama empat hari berturut-turut di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi mancanegara.

Harga emas spot (XAU/USD) turun 0,1% merupakan US$4.121,27 per troy ounce pada pukul 16.10 WIB, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 15 Oktober. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember merosot 0,1% menjadi US$4.139,50 per troy ounce. Pelemahan ini terjadi ketika investor semakin berhati-hati menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pekan depan, sementara lonjakan harga minyak dunia kembali memperbesar tekanan kepada prospek inflasi Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak Brent yang bertahan di atas US$110 per barel merupakan salah satu faktor utama yang membebani emas. Ketegangan geopolitik Timur Tengah, termasuk ancaman kepada jalur pelayaran Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak internasional. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar biaya energi dan mempertahankan tekanan inflasi lebih lama. Kepala Analis Bursa Bybit, Han Tan, menilai emas masih berada dalam tren penurunan yang berlangsung sejak dua bulan terakhir akibat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Meskipun emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, tingginya suku bunga membuat logam mulia kurang menarik dibandingkan instrumen yang memberikan imbal hasil.

Perhatian investor kini tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Mayoritas ekonom dalam survei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, sebelum kembali menaikkannya pada Desember. Market bahkan memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga Desember sekitar 90%, dengan potensi kenaikan sebesar 25 basis poin. Ekspektasi pengetatan moneter tersebut terus membatasi ruang penguatan emas karena tingginya biaya pinjaman meningkatkan daya tarik instrumen berbunga. Selain itu, investor juga menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pekan depan untuk memperoleh petunjuk mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter berikutnya.

Tekanan jual turut melanda logam mulia lainnya, dengan harga perak turun 1,3% merupakan US$57,25 per ounce, platinum turun 1,1% ke US$1.630,11, dan paladium merosot 2% menjadi US$1.080,92 per ounce. Pelemahan serentak tersebut memaparkan meningkatnya kehati-hatian investor kepada prospek market logam mulia di tengah ketidakpastian ekonomi mancanegara. Ke depan, koreksi emas diestimasi masih sensitif terhadap perubahan harga minyak, dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS. Jika tekanan inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan sinyal kebijakan moneter ketat, emas berpotensi kembali menguji area psikologis US$4.100 per troy ounce.

Point of View Newsmaker

Pelemahan emas selama empat hari berturut-turut memperlihatkan bahwa market di tengah lebih mengkhawatirkan dampak inflasi kepada kebijakan The Fed dibandingkan memanfaatkan emas sebagai instrumen safe haven. Konflik Timur Tengah memang meningkatkan ketidakpastian dunia, tetapi lonjakan harga minyak justru memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi yang membatasi daya tarik emas.

Dari sisi teknikal, area US$4.100 merupakan support psikologis penting. Jika level tersebut ditembus secara konsisten, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju US$4.050 hingga US$4.000. Sebaliknya, apabila emas mampu kembali mengalami kenaikan melewati US$4.150, peluang pemulihan menuju US$4.200 dapat terbuka. Level tersebut merupakan skenario analisa, bukan kepastian target harga.

Kesimpulan: Emas masih berada dalam tekanan bearish jangka pendek. Namun, keputusan The Fed pada 27–28 Oktober dan data inflasi PCE dapat merupakan katalis perubahan arah bursa. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga mulai mereda, emas berpeluang mengalami rebound. Sebaliknya, sinyal hawkish The Fed dapat memperpanjang tekanan kepada XAU/USD.

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

📰 Sumber asli: newsmaker

Sumber

Artikel ini mengutip laporan newsmaker . Judul dan penyuntingan disesuaikan untuk pembaca Indonesia.

Peringatan Risiko

Perdagangan berjangka komoditi berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kerugian melebihi dana awal. Materi ini bersifat informasi, bukan rekomendasi atau ajakan bertransaksi.

Berita Terkait

Mulai dari akun demo — tanpa risiko

Latih strategi dengan harga pasar sebelum membuka akun real.