
🏠 Beranda › Berita › Minyak Menguat, Serangan AS-Iran di Horm…
Oil
Minyak Menguat, Serangan AS-Iran di Hormuz Picu Risiko Pasokan
Harga minyak menguat pada perdagangan Senin, berlanjutnya kenaikan tajam pada pekan lalu, setelah serangan Amerika Serikat dan Iran bagi kapal di sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah melalui jalur penting tersebut.
Pada pukul 09.41 ET atau 13.41 GMT, minyak mentah berjangka Brent naik 1,1% berubah jadi US$97,36 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI juga menguat 1,1% menjadi US$92,46 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Brent melonjak 8% sepanjang pekan lalu, sementara WTI naik hampir 10%. Reli tersebut dipicu oleh lambatnya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz yang mengakibatkan meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun ke level terendah sejak Mei. Berdasarkan data yang dikutip sejumlah laporan media, hanya dua kapal yang melintasi jalur tersebut pada hari Sabtu, kemudian enam kapal pada hari Minggu. Rata-rata gerakan 10 hari juga turun jatuh ke 10 kapal.
Sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar 125 kapal komoditas besar melewati Selat Hormuz setiap hari. Jalur ini sangat penting karena mencakup sekitar seperlima dari seluruh lalu lintas tanker dunia.
Iran juga memberi sinyal akan mengumumkan zona terbatas baru dekat Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Rencana tersebut muncul setelah pasukan AS menyerang dan melumpuhkan tiga kapal tanker minyak Iran pada akhir pekan.
Washington menyebut serangan itu sebagai balasan
Washington menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan rudal balistik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC bagi dua kapal perang Angkatan Laut AS di wilayah tersebut. Eskalasi ini membuat peringkat semakin khawatir terhadap potensi pasokan gangguan yang lebih panjang.
Dari sisi pasokan internasional, OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan produksi minyak pada Oktober setelah pertemuan Minggu. Keputusan ini menghentikan rangkaian kenaikan produksi selama enam bulan terakhir, sementara kelompok produsen mulai fokus menyusun kuota produksi baru untuk tahun 2027.
Ulasan Newsmaker: Kenaikan minyak sekarang masih didorong oleh premi risiko geopolitik, terutama karena Selat Hormuz berubah jadi titik utama kekhawatiran bursa. Brent yang sudah berada di atas US$97 dan WTI di atas US$92 menjelaskan bahwa pasar mulai memasukkan risiko gangguan pasokan lebih lama. Namun, selama aliran minyak masih berjalan, kenaikan harga bisa tertahan oleh aksi ambil untung. Jika Iran benar-benar menetapkan zona terbatas baru dan lalu lintas kapal semakin turun, Brent berpeluang menguji area US$100 per barel. Sebaliknya, jika pasokan tetap mengalir dan ketegangan mereda, harga minyak berisiko terkoreksi dari level tinggi. (asd)
