Wednesday, 21 October 2026 Terdaftar & diawasi Bappebti · Anggota BBJ & KBI
BESTPROFIT SURABAYA NEWS Surabaya · Pialang Berjangka
Info Pasar
Harga & data pasar diperbarui resmi di situs korporat
Data harga real-time → Sumber resmi · bukan ajakan transaksi
NEWS

Minyak Melonjak, Selat Hormuz Jadi Ancaman Pasokan Dunia

Minyak Melonjak, Selat Hormuz Jadi Ancaman Pasokan Dunia
Minyak Melonjak, Selat Hormuz Jadi Ancaman Pasokan Dunia

🏠 Beranda › Berita › Minyak Melonjak, Selat Hormuz Jadi Ancam…

Oil

📅 2026-10-21   🕐 16:19   ⏱️ 3 menit baca   📰 Sumber: newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (21/10/2026), iring-iringan meningkatnya kekhawatiran kepada gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah yang belum mereda.

Minyak mentah Brent naik 0,86% merupakan US$109,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,78% ke level US$98,58 per barel pada pukul 14.33 WIB. Kenaikan ini dipicu meningkatnya risiko keamanan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz serta ancaman serangan kepada fasilitas energi Arab Saudi, yang membuat pelaku peringkat kembali memperhitungkan premi risiko geopolitik dalam harga minyak.

Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa ranjau laut yang dipasang di Selat Hormuz telah menghalangi tiga kapal tanker yang mencoba melintasi jalur tanpa izin otoritas Teheran. Dua kapal tanker bahkan diklaim terbakar akibat ledakan ranjau, meskipun rincian insiden tersebut masih memerlukan verifikasi independen. Di sisi lain, kelompok Houthi Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan kepada sejumlah fasilitas strategis Arab Saudi, termasuk fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha. Rangkaian insiden ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia menuju market internasional.

Dampak konflik tidak hanya terlihat pada harga minyak mentah

Dampak konflik tidak hanya terlihat pada harga minyak mentah, tetapi juga pada lonjakan biaya pengiriman energi dunia. Goldman Sachs melaporkan bahwa rata-rata tarif pengangkutan minyak mentah dunia telah melampaui US$20 per barel, dibandingkan sekitar US$3 per barel pada tahun di awal atau meningkat hampir tujuh kali lipat. Premi risiko perang untuk pelayaran melalui Selat Hormuz kemungkinan menyumbang sekitar US$7 kepada kenaikan biaya pengangkutan tersebut. Tingginya tarif pengiriman berpotensi menekan margin keuntungan kilang minyak, terutama di Asia, sekaligus meningkatkan harga produk bahan bakar olahan di bursa global.

Pelaku market kini terus memantau perkembangan keamanan Selat Hormuz, aktivitas militer Iran dan kelompok Houthi, serta kemampuan negara-negara produsen mempertahankan kelancaran ekspor minyak. Meskipun aliran minyak dari kawasan Teluk memaparkan pemulihan, tingginya biaya logistik dan ancaman serangan kepada kapal tanker masih membatasi optimisme pasar. Apabila gangguan jalur pelayaran semakin meluas, harga minyak berpotensi mempertahankan penguatan dan kembali menguji level tertinggi sejak awal. Sebaliknya, meredanya konflik dan normalisasi pengiriman energi dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak dunia.

Point of View Newsmaker

Gerakan harga minyak kini menjelaskan bahwa persoalan utama market energi bukan hanya ketersediaan pasokan, melainkan juga tingginya biaya dan risiko untuk mengirimkan minyak sampai ke negara pembeli. Meskipun produksi dan ekspor minyak dapat dipertahankan, lonjakan ongkos pengiriman serta premi asuransi perang tetap berpotensi meningkatkan harga energi yang harus dibayar konsumen.

Dari sisi teknikal, Brent perlu mempertahankan area US$108 sebagai support jangka pendek. Apabila ketegangan Selat Hormuz terus meningkat, harga berpeluang kembali menguji US$110–112, dengan potensi penguatan menuju US$115 jika risiko gangguan pasokan semakin besar. Sebaliknya, meredanya ketegangan dapat membuka peluang koreksi menuju US$105 per barel. Level tersebut merupakan skenario pemantauan teknikal, bukan kepastian koreksi harga.

Kesimpulan : Minyak dunia masih memiliki kecenderungan bullish akibat tingginya risiko geopolitik. Jika harga energi terus meningkat, tekanan inflasi internasional berpotensi bertahan lebih lama dan memperkuat alasan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Bagi Indonesia, kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya impor energi, menambah tekanan kepada rupiah, serta memengaruhi prospek inflasi domestik.

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

📰 Sumber asli: newsmaker

Sumber

Artikel ini mengutip laporan newsmaker . Judul dan penyuntingan disesuaikan untuk pembaca Indonesia.

Peringatan Risiko

Perdagangan berjangka komoditi berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kerugian melebihi dana awal. Materi ini bersifat informasi, bukan rekomendasi atau ajakan bertransaksi.

Berita Terkait

Mulai dari akun demo — tanpa risiko

Latih strategi dengan harga pasar sebelum membuka akun real.