
🏠 Beranda › Berita › Harga Minyak Turun, Konflik dan Fed Memb…
Harga Minyak Turun, Konflik dan Fed Membayangi
Harga minyak kembali mengalami penurunan pada awal perdagangan Eropa, Kamis (17/9), setelah kenaikan suku bunga Federal Reserve dan harapan pemulihan sebagian kapasitas ekspor Arab Saudi menekan market. Brent turun 1,4% merupakan US$104,31 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,1% ke US$100,28. Penurunan berlanjut setelah kedua acuan tersebut terkoreksi tajam pada sesi sejak lama.
The Fed secara bulat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin merupakan 3,75%–4,00%, dengan mayoritas pejabat memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan tahun ini. Kebijakan tersebut bertujuan meredam inflasi yang masih tinggi. Namun, biaya pinjaman yang meningkat berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dan mengurangi permintaan minyak.
Harapan membaiknya pasokan turut membebani harga. Kata analis XS.com, Samer Hasn, Arab Saudi mengalihkan pemuatan minyak dari pelabuhan Yanbu yang tidak beroperasi, sementara sebagian aliran minyak Saudi telah kembali berjalan. Pengiriman melalui Selat Hormuz juga masih berlangsung di bawah perlindungan AS, meskipun aktivitas pelayaran tetap jauh di bawah kondisi sebelum perang.
Risiko keamanan tetap membayangi pemulihan ekspor
Risiko keamanan tetap membayangi pemulihan ekspor. Kelompok Houthi mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-15 Saudi di wilayah Marib, Yaman, tetapi pemerintah Saudi belum mengonfirmasi kehilangan tersebut. Penguasaan sejumlah wilayah, termasuk sebuah pulau di Selat Bab al-Mandeb, juga memperbesar kemampuan Houthi mengganggu pengiriman minyak Saudi melalui Laut Merah.
Sementara itu, data EIA memaparkan persediaan minyak mentah komersial AS turun sekitar 640.000 barel pada pekan yang berakhir 11 September, lebih kecil dari perkiraan, sedangkan stok bensin dan distilat meningkat. Meski harga sedang terkoreksi, Capital Economics menilai ketahanan permintaan internasional dan pemulihan impor China dapat membuat harga minyak bertahan tinggi lebih lama apabila pasokan Timur Tengah tetap terbatas.
Tinjauan Newsmaker : pelemahan harga minyak masih rentan berbalik karena harapan pemulihan ekspor Saudi belum sepenuhnya terwujud. Kenaikan suku bunga The Fed membebani prospek permintaan, sementara gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan Laut Merah tetap mengancam ketersediaan pasokan. Jika ekspor Saudi pulih secara berkelanjutan, koreksi minyak berpeluang berlanjut. Namun, serangan baru kepada infrastruktur energi serta meningkatnya pembelian China dapat kembali mendorong harga. Karena itu, realisasi pemulihan pasokan merupakan faktor penting untuk menilai apakah penurunan harga dapat bertahan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id
