Minyak Stabil Setelah Anjlok 8%, Pasar Pantau Diplomasi Timur Tengah

🏠 Beranda Berita Minyak Stabil Setelah Anjlok 8%, Pasar P…

Minyak Stabil Setelah Anjlok 8%, Pasar Pantau Diplomasi Timur Tengah

📅 2026-09-22   🕐   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Selasa (22/9) setelah mengalami penurunan hampir 8% dalam empat sesi terakhir. Pasar mulai mengurangi kekhawatiran kepada gangguan pasokan Timur Tengah sejalan meningkatnya aktivitas ekspor Arab Saudi dan harapan adanya perkembangan diplomasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran. Brent bertahan di sekitar US$100,37 per barel, sementara WTI berada di level US$96,95 per barel.

Data satelit menyiratkan aktivitas pengiriman minyak Arab Saudi dari kawasan Teluk Persia meningkat signifikan, mengindikasikan kerajaan mulai mengalihkan kembali ekspornya melalui Selat Hormuz setelah di awal gangguan akibat penutupan pipa Timur-Barat. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran pasar kepada potensi berkurangnya pasokan energi internasional.

Perhatian investor kini berbunyi pada agenda diplomasi Presiden AS Donald Trump yang akan menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB dan berpotensi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Selain itu, Trump juga mengadakan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pekan ini. Pasar menilai perkembangan hubungan AS-Iran dan AS-China dapat memberikan dampak besar kepada prospek energi mancanegara.

Meski tekanan harga mulai mereda

Meski tekanan harga mulai mereda, risiko geopolitik masih tetap merupakan perhatian. Konflik Timur Tengah telah mendorong harga minyak naik lebih dari 60% sepanjang tahun ini akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur energi. Di sisi lain, harga diesel AS telah mencatat rekor baru di atas US$6,50 per galon, memaparkan tekanan pada pasar bahan bakar masih tinggi.

Selain Timur Tengah, pasar juga mencermati gangguan produksi di Libya setelah ladang minyak terbesar di negara tersebut, Sharara, mengalami penurunan produksi lebih dari setengah akibat penutupan pipa menuju terminal ekspor Zawiya. Sementara itu, tekanan energi yang memicu inflasi mancanegara juga merupakan perhatian The Fed, dengan Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem menyebut kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.

Harga minyak mulai stabil setelah pasar melihat adanya perbaikan aliran pasokan dan peluang diplomasi. Namun, konflik Timur Tengah masih merupakan faktor utama yang dapat kembali memicu volatilitas. Investor akan mencermati hasil pertemuan Trump dengan pemimpin Iran dan China, karena perkembangan geopolitik tersebut dapat menentukan arah harga energi berikutnya. (asd)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
📖 Baca juga: Glossarium Trading

By IT EF