
🏠 Beranda › Berita › Harga Minyak Makin Panas, Kini Tembus US…
Harga Minyak Makin Panas, Kini Tembus US$ 108 per Barel
Harga minyak mentah dunia terus memanas sepanjang perdagangan Selasa (15/9) kemarin imbas laporan pembatalan ekspor Arab Saudi, setelah serangan drone memaksa penutupan jalur pipa pengiriman minyak utamanya.
Melansir CNBC, Rabu (16/9/2026), harga minyak mentah Brent berjangka yang kerap merupakan patokan internasional naik 2,9% jadi US$ 108,75 per barel pada sesi perdagangan kemarin. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 4,4% menjadi US$ 105.83 per barel.
Secara keseluruhan, harga minyak dunia ini mencapai melonjak lebih dari 20% dalam satu bulan terakhir iring-iringan meningkatnya intensitas pertempuran di kawasan Teluk Persia.
Sementara lonjakan harga selama perdagangan Selasa (14/9) terjadi setelah sumber-sumber market mengungkapkan bahwa Arab Saudi telah memberitahu pelanggan mereka di Eropa mengenai pembatalan sebagian pengiriman minyak mentah untuk bulan September.
Pembatalan pengiriman ini utamanya memang disebabkan oleh penutupan pipa Timur-Barat (East-West pipeline) yang kini merupakan jalur utama pengiriman ekspor minyak Arab Saudi pasca penutupan Selat Hormuz dengan kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari.
"Serangan kepada infrastruktur minyak menandai eskalasi konflik yang signifikan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya skenario kenaikan harga, di mana harga minyak Brent melampaui US$ 120 per barel," kata Yulia Zhestkova Grigsby, ahli strategi komoditas senior di Goldman Sachs.
Pihak Arab Saudi menyebut penutupan pipa tersebut sebagai langkah pencegahan
Pihak Arab Saudi menyebut penutupan pipa tersebut sebagai langkah pencegahan. Namun sampai kini belum memberikan keterangan terkait nilai kerusakan ataupun perkiraan mengenai berapa lama gangguan operasional itu akan berlangsung.
Meski di sisi lain, Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengungkapkan bahwa penghentian operasional jalur pipa tersebut diestimasi hanya sementara dan akan kembali normal dalam beberapa hari.
"Ini akan merupakan gangguan singkat dan sementara," kata Wright kepada CNBC.
Di luar gangguan ekspor minyak Saudi
Di luar gangguan ekspor minyak Saudi, peningkatan harga komoditas energi yang satu ini turut didorong oleh penutupan operasi perusahaan minyak nasional Libya di dua ladang minyak dan sebuah stasiun pompa di tengah aksi protes.
Di sisi lain, milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan terus serangan baru kepada Arab Saudi pekan ini. Kata juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, milisi tersebut meluncurkan drone dan rudal balistik ke arah kota Khamis Mushait, Abha, dan Taif.
Kemudian situasi keamanan di Selat Hormuz juga masih tidak stabil. Setidaknya dua kapal tanker telah diserang sejak hari Sabtu (12/9), berdasarkan laporan insiden dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).
Simak juga Video 'Wapres AS: Harga Minyak Tinggi karena Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz':
[Gambas:Video 20detik]
