
🏠 Beranda › Berita › Jika Harga Minyak Terus Mendidih, Pertam…
Jika Harga Minyak Terus Mendidih, Pertamax Bisa Tembus Rp 20.000/Liter
Harga minyak dunia sempat tembus US$ 108 per barel. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM).
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menilai jika tren harga minyak mancanegara terus bertahan tinggi tanpa adanya indikasi penurunan, harga produk bahan bakar nonubsidi, seperti Pertamax berpotensi naik ke level Rp 20 ribu per liter.
"Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
Di sisi lain, masyarakat diminta tidak membeli BBM berlebihan alias panic buying. Eko memastikan stok BBM di terminal dan SPBU di tengah dalam kondisi aman.
Fenomena panic buying justru akan menimbulkan dampak bagi rantai pasok energi. Proses pemulihan atau recovery stock di lapangan membutuhkan rentetan penanganan yang panjang.
"Bayangkan kalau normalnya cuma 100 ya dianggap aja misalnya kita angkat 100 karena ada panic buying itu bisa 110-120, menambah 10-20 itu nggak gampang, mungkin nggak apa-apa cuman nambah 10-20 aja tapi rentetannya panjang sekali," terang eko.
Eko menjelaskan lonjakan permintaan imbas panic buying tidak bisa langsung diatasi dalam waktu singkat. Proses pemulihan stok memerlukan waktu minimal satu minggu jika kondisi stok aman, atau setidaknya 3 hingga 4 hari pada kondisi normal.
Rantai pasok yang harus disiapkan saat terjadi lonjakan cukup panjang. Mulai dari peningkatan produksi di kilang, opsi impor jika pasokan kurang, armada kapal tambahan oleh tim distribusi untuk mengirim ke berbagai terminal, hingga penambahan armada mobil tangki di berbagai daerah.
"Misalkan sudah disediakan 50 mobil tangki gara-gara ada lonjakan panic buying dan lain-lain itu bisa butuh tambah 10 (mobil), nyari 10 (mobil) dalam waktu segera nggak gampang. Jadi, kalau recovery-nya ini yang kita hindari, karena recovery itu butuh waktu paling tidak seminggu," jelas Eko.
Sejak awal, harga minyak sempat lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini bersamaan dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.
Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.
