Harga Minyak Turun, Krisis Jalur Energi Memburuk

🏠 Beranda Berita Harga Minyak Turun, Krisis Jalur Energi …

Harga Minyak Turun, Krisis Jalur Energi Memburuk

📅 2026-09-12   🕐   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak turun pada perdagangan Jumat (11/9) setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei. Brent turun 3,21% ke sekitar US$104,18 per barel, sementara WTI turun 2,89% ke US$99,52 per barel. Meski terkoreksi, kedua benchmark masih berada di jalur kenaikan lebih dari 8% sepanjang pekan karena kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah belum mereda.

Tekanan jual muncul setelah laporan menyebut sejumlah menteri luar negeri di kawasan Timur Tengah tengah mengupayakan kesepakatan sementara dengan Iran untuk menjaga kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, risiko kenaikan harga masih tinggi setelah serangan kepada jalur pelayaran meningkat tajam. Brent dan WTI di awal melonjak lebih dari 6% pada Kamis akibat eskalasi serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut.

Ketegangan juga mulai meluas ke jalur energi Saudi. Citra satelit menyiratkan adanya asap di sekitar East-West Pipeline Arab Saudi, jalur penting yang digunakan untuk mengalihkan ekspor minyak dari Hormuz. International Energy Agency mencatat pasokan minyak Saudi turun sekitar 2,3 juta barel per hari merupakan 6 juta barel per hari pada Agustus, level terendah dalam lebih dari tiga dekade, setelah sejumlah fasilitas energi negara tersebut terkena serangan.

Risiko kepada jalur perdagangan mancanegara turut meningkat setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mencapai Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb. Sementara itu, Iran mengungkapkan telah menyerang 10 kapal di sekitar Hormuz setelah AS menghantam lima tanker minyak Iran. Jumlah kapal yang melintasi Hormuz turun merupakan hanya tujuh pada Kamis, dibandingkan 11 sehari sejak awal, memperkuat kekhawatiran bahwa gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama.

Dampak konflik mulai terlihat pada harga bahan bakar. Harga rata-rata diesel AS menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya, dipicu kombinasi gangguan pasokan akibat perang Iran dan serangan Ukraina kepada kilang Rusia. Commerzbank kemudian menaikkan proyeksi harga Brent akhir tahun merupakan US$85 per barel dari US$75, sekaligus menaikkan proyeksi harga diesel dan bahan bakar jet.

Analisa Newsmaker : Koreksi minyak pada Jumat lebih mencerminkan aksi ambil untung dan munculnya harapan diplomasi, bukan perubahan fundamental yang signifikan. Selama arus kapal di Hormuz dan Bab el-Mandeb masih terganggu, risiko pasokan tetap tinggi sehingga harga minyak berpotensi bertahan volatil. Lonjakan harga energi juga dapat menjaga tekanan inflasi internasional, mendorong yield obligasi tetap tinggi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed maupun ECB. Kondisi tersebut berpotensi merupakan faktor penting bagi koreksi dolar, obligasi, serta emas dalam beberapa sesi berikutnya. (arl)

Disclaimer: artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF