
🏠 Beranda › Berita › Minyak Naik, Serangan AS ke Kapal Iran P…
Oil
Minyak Naik, Serangan AS ke Kapal Iran Picu Risiko Eskalasi
- bahwa konflik dapat mengganggu arus energi
- diperdagangkan di kisaran US$96–97 per barel,
- pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak
- dihancurkan di Teluk Oman, sementara M/T
- maritim terbatas baru di luar Selat
- tersebut memperbesar kekhawatiran market mengenai keamanan
- bagi jalur pelayaran juga semakin terlihat
- rata-rata hanya sekitar 10 kapal per
- risiko geopolitik membuat market kembali membicarakan
- risiko, tetapi belum mencerminkan skenario terburuk.
- bagi minyak juga meningkat setelah hedge
minyak kembali bergerak naik pada perdagangan Senin (7/9), setelah ketegangan
antara Amerika Serikat dan Iran meningkat menyusul serangan militer AS bagi
sejumlah kapal tanker Iran. Situasi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran
bahwa konflik dapat mengganggu arus energi
bahwa konflik dapat mengganggu arus energi melalui kawasan Teluk Persia dan
Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.
Brent sempat naik sekitar 0,8% sebelum memangkas penguatannya dan
diperdagangkan di kisaran US$96–97 per barel,
diperdagangkan di kisaran US$96–97 per barel, sementara West Texas Intermediate
bergerak di sekitar US$92 per barel.
meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menuturkan
pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak
pasukannya menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada 5 September. Serangan
tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan rudal
balistik ke arah dua kapal perang AS. CENTCOM menyebut kapal M/T Kylo
dihancurkan di Teluk Oman, sementara M/T
dihancurkan di Teluk Oman, sementara M/T Stark 1 dan M/T Downy dilumpuhkan.
Tidak ada personel militer AS yang dilaporkan terluka dalam serangan Iran
kemudian meningkatkan tekanan dengan mengumumkan rencana pembentukan zona
maritim terbatas baru di luar Selat
maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional
Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyatakan wilayah tersebut akan dimulai dari
garis blokade Angkatan Laut AS dan meluas ke sebagian Teluk Persia. Langkah
tersebut memperbesar kekhawatiran market mengenai keamanan
tersebut memperbesar kekhawatiran market mengenai keamanan pelayaran komersial
dan potensi gangguan lebih panjang bagi pengiriman minyak serta produk
energi dari kawasan tersebut.
bagi jalur pelayaran juga semakin terlihat
bagi jalur pelayaran juga semakin terlihat dari menurunnya aktivitas kapal
di Selat Hormuz. Dalam sekitar 10 hari terakhir, lalu lintas kapal komoditas
melalui jalur strategis tersebut turun ke level terendah sejak Mei, dengan
rata-rata hanya sekitar 10 kapal per
rata-rata hanya sekitar 10 kapal per hari. Ketegangan terbaru juga membuat
sejumlah pemilik kapal menghindari kawasan tersebut, sementara beberapa tanker
memilih mematikan sistem pelacakan ketika melintasi wilayah berisiko tinggi.
risiko geopolitik membuat market kembali membicarakan
risiko geopolitik membuat market kembali membicarakan kemungkinan Brent menembus
level psikologis US$100 per barel. Haris Khurshid, Chief Investment Officer
Karobaar Capital, menilai market memang telah memasukkan sebagian besar premi
risiko, tetapi belum mencerminkan skenario terburuk.
risiko, tetapi belum mencerminkan skenario terburuk. Apabila gangguan pelayaran
memburuk dan mulai menyebabkan hilangnya pasokan minyak secara nyata dalam
waktu lama, tekanan kenaikan harga dapat semakin besar. Minat spekulatif
bagi minyak juga meningkat setelah hedge
bagi minyak juga meningkat setelah hedge fund menambah posisi bullish
menyusul kembali memanasnya konflik AS-Iran.(asd)
