Minyak Melonjak Sepekan, Hormuz Jadi Pemicu Utama

🏠 Beranda Berita Minyak Melonjak Sepekan, Hormuz Jadi Pem…

Oil

Minyak Melonjak Sepekan, Hormuz Jadi Pemicu Utama

📅 2026-09-05   🕐 03:41   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak ditutup mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (4/9), mengakhiri pekan dengan kenaikan tajam setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Brent ditutup naik 0,8% di US$92,68 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bertambah 0,2% merupakan US$91,48. Sepanjang pekan, Brent melonjak 7,6% dan WTI hampir 10%.

Reli minyak terutama didorong oleh kekhawatiran bahwa jalur pasokan energi Timur Tengah masih mengalami gangguan akibat konflik. Arus tanker melalui Selat Hormuz belum kembali normal, dengan hanya empat kapal komoditas mencapai melintas pada Kamis, jauh di bawah rata-rata sekitar 15 kapal dalam sepuluh hari sejak lama. Kondisi tersebut membuat premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga minyak.

Lonjakan minyak juga ikut mendorong harga bahan bakar di Amerika Serikat. Harga rata-rata diesel AS mencapai rekor sekitar US$5,85 per galon, dipicu oleh konflik AS-Iran, serangan Ukraina bagi kilang Rusia, dan penurunan persediaan. Tekanan harga diesel berpotensi meningkat lebih lanjut menjelang musim tanam dan panen serta mendekati musim dingin.

Kenaikan energi mulai memperbesar kekhawatiran bagi

Kenaikan energi mulai memperbesar kekhawatiran bagi inflasi internasional dan biaya pinjaman. Pada saat yang sama, laporan Nonfarm Payrolls AS memaparkan ekonomi menciptakan 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh melampaui ekspektasi. Data tenaga kerja yang kuat memperbesar peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September, sehingga sempat membatasi kenaikan WTI.

Sejumlah bank mulai menaikkan proyeksi harga minyak. Citi menaikkan perkiraan rata-rata Brent kuartal ketiga merupakan US$86 per barel dari US$80 karena normalisasi Selat Hormuz berjalan lebih lambat. ANZ menaikkan proyeksi Brent jangka pendek menjadi US$95 per barel, dengan potensi kenaikan lebih besar jika konflik Timur Tengah kembali meningkat.

Analisa Newsmaker: Reli minyak sepanjang pekan menyiratkan bursa masih memberikan premi besar bagi risiko geopolitik dan gangguan jalur pasokan. Namun, kenaikan berikutnya akan bergantung pada apakah gangguan di Selat Hormuz benar-benar mengurangi ekspor fisik. Jika konflik meningkat atau fasilitas energi merupakan sasaran, Brent berpotensi kembali mendekati US$95–US$100. Sebaliknya, normalisasi arus tanker dan kenaikan ekspor dari produsen seperti Irak dapat mengurangi premi risiko, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menahan permintaan dan membatasi reli. (arl)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
📖 Baca juga: Glossarium Trading

By IT EF