🏠 Beranda Berita emas Tertekan di Tengah Tarik-Menarik Fe…

Gold

Emas Tertekan di Tengah Tarik-Menarik Fed dan Treasury

📅 2026-09-01   🕐 03:34   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga emas bergerak di sekitar US$4.445 per troy ons pada perdagangan Senin (31/8), masih berada dekat level terendah hampir dua pekan. Tekanan muncul setelah meningkatnya ketegangan geopolitik justru memicu lonjakan harga minyak dan yield Treasury, sehingga bursa semakin khawatir tekanan inflasi dapat memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga.

Harga minyak AS bergerak di atas US$85 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran kembali bertukar serangan. Kenaikan biaya energi memperbesar risiko inflasi bertahan lebih lama, sementara yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh sekitar 4,76%. Lingkungan yield tinggi jatuh ke hambatan bagi emas karena bullion tidak menawarkan imbal hasil bunga.

Tekanan bagi emas semakin kuat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan nada hawkish di Jackson Hole. Warsh menegaskan The Fed masih harus bertindak jika inflasi tidak menyiratkan kemajuan yang cukup menuju target 2%. Peringkat kemudian meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga September merupakan sekitar 64%, dibandingkan sekitar 36% sebelum pidato tersebut.

Meski demikian, emas masih mencatat performa

Meski demikian, emas masih mencatat performa kuat sepanjang Agustus dengan kenaikan sekitar 9,7%, berubah jadi bulan terbaik sejak Januari. Reli besar sejak awal dipicu keputusan Departemen Keuangan AS untuk memperbesar pembelian kembali obligasi jangka panjang, yang menekan yield dan kembali menghidupkan kekhawatiran mengenai utang pemerintah serta potensi pelemahan nilai dolar.

Kondisi tersebut membuat market emas berada dalam tarik-menarik antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, The Fed yang hawkish mendukung yield dan meningkatkan opportunity cost emas. Di sisi lain, Treasury yang berusaha menekan biaya pinjaman melalui buyback obligasi menjaga narasi debasement trade tetap hidup dan memberikan dukungan kepada permintaan emas sebagai penyimpan nilai.

Konflik AS–Iran juga memberikan sinyal yang tidak sepenuhnya bullish bagi emas. Eskalasi geopolitik biasanya meningkatkan permintaan safe haven, tetapi kali ini lonjakan minyak ikut meningkatkan ekspektasi inflasi dan suku bunga. Akibatnya, efek positif dari safe haven sebagian tertutup oleh tekanan dari yield yang lebih tinggi.

Dolar AS sendiri justru turun tipis,

Dolar AS sendiri justru turun tipis, dengan Dollar Index turun sekitar 0,24% ke 99,43. Pelemahan tersebut membantu membatasi penurunan emas lebih jauh, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter The Fed.

Fokus investor selanjutnya beralih ke laporan tenaga kerja AS. Bursa menunggu ADP, ISM, dan terutama Nonfarm Payrolls Agustus, yang kata konsensus ekonom Reuters ditaksir bertambah sekitar 55.000 pekerjaan. Angka yang jauh lebih lemah dapat mengurangi keyakinan pasar kepada kenaikan suku bunga September dan memberikan ruang rebound bagi emas.

Tinjauan Newsmaker: emas kini berada di tengah pertarungan antara Fed hawkish dan Treasury dovish. Dalam jangka pendek, kenaikan minyak, yield tinggi, dan ekspektasi rate hike masih merupakan hambatan utama. Namun, narasi utang AS, buyback Treasury, serta kenaikan emas hampir 10% sepanjang Agustus memaparkan permintaan struktural belum hilang. Data tenaga kerja pekan ini berpotensi menjadi penentu apakah emas mampu kembali naik atau koreksi berlanjut. (arl)

Sumber : Newsmaker.id

Disclaimer: artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF