
🏠 Beranda › Berita › emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Yield…
Gold
Emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Yield Treasury Dorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
- Pada saat yang sama, pelaku market
- US$4.377,84 per troy ons, sementara kontrak
- tertinggi pekan lalu yang berada di
- Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen
- poin pada pertemuan September. Angka tersebut
- jatuh ke perhatian setelah harga minyak
- tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar
- kenaikan suku bunga menciptakan tekanan kuat
Harga emas turun tajam pada
perdagangan Selasa setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong
harga minyak lebih tinggi dan memperburuk aksi jual di bursa obligasi dunia.
Pada saat yang sama, pelaku market
Pada saat yang sama, pelaku market semakin meningkatkan ekspektasi bahwa Federal
Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
XAU/USD turun 1,6% menjadi
US$4.377,84 per troy ons, sementara kontrak
US$4.377,84 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas turun 1,2% jatuh ke
US$4.426,26. Perak atau XAG/USD turun 2,4% ke US$64,98 per ons, sedangkan
platinum mengalami penurunan 1,2% jatuh ke US$1.774,70. Indeks Dolar AS naik sekitar 0,2% ke
level 99,59.
Tekanan terhadap emas semakin
besar setelah logam mulia tersebut telah kehilangan sekitar US$320 dari level
tertinggi pekan lalu yang berada di
tertinggi pekan lalu yang berada di sekitar US$4.697 per troy ons. Penurunan
terbaru terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi
pemerintah AS yang membuat komoditas tanpa bunga seperti emas berubah jadi relatif kurang
menarik bagi investor.
Tekanan jual juga merupakan
kelanjutan dari pelemahan lebih dari 3% pada Jumat lalu. Saat itu, Ketua
Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen
Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk membawa
inflasi kembali menuju target 2%, sehingga peringkat menangkap sinyal bahwa kebijakan
moneter ketat masih berpotensi berlanjut.
Ekspektasi kepada kenaikan suku
bunga The Fed pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, bursa kini
memperkirakan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis
poin pada pertemuan September. Angka tersebut
poin pada pertemuan September. Angka tersebut melonjak dibandingkan sekitar 40%
sebelum pidato Warsh di Jackson Hole.
Risiko inflasi juga kembali
jatuh ke perhatian setelah harga minyak
jatuh ke perhatian setelah harga minyak melonjak. Brent bergerak di atas US$91
per barel, sementara minyak mentah AS berada di atas US$86 per barel setelah
kembali pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran
bagi potensi gangguan pasokan energi.
Kenaikan harga energi menjadi
perhatian khusus karena dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi
tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar
tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk
mempertahankan kebijakan moneter hawkish atau bahkan kembali menaikkan suku
bunga apabila tekanan harga terus meningkat.
Di market obligasi, yield Treasury
AS tenor 10 tahun naik hingga sekitar 4,78%, level tertinggi sejak awal 2025.
Aksi jual obligasi juga terjadi secara dunia dan mendorong kenaikan imbal
hasil di sejumlah market utama.
Kombinasi antara penguatan dolar
AS, lonjakan yield Treasury, kenaikan minyak, dan meningkatnya ekspektasi
kenaikan suku bunga menciptakan tekanan kuat
kenaikan suku bunga menciptakan tekanan kuat bagi emas. Yield yang lebih
tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak
memberikan imbal hasil bunga.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id
