
🏠 Beranda › Berita › Konflik Memanas, emas Malah Jatuh
Gold
Konflik Memanas, Emas Malah Jatuh
Harga emas bertahan di sekitar US$4.330 per ons pada
perdagangan Rabu setelah merosot hampir 6% dalam tiga sesi terakhir. Logam
mulia tersebut sejak awal menyentuh level terendah dalam dua pekan akibat
tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi
tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS.
Imbal hasil obligasi mancanegara melonjak ke level tertinggi
sejak 2008, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak
memberikan bunga. Tekanan semakin besar setelah
memberikan bunga. Tekanan semakin besar setelah Ketua Federal Reserve Kevin
Warsh menegaskan komitmennya memerangi inflasi, sementara konflik AS–Iran
kembali mendorong harga minyak naik.
Pelaku peringkat kini memperkirakan peluang hampir
Pelaku peringkat kini memperkirakan peluang hampir 70% bahwa
The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Eskalasi
serangan antara AS dan Iran dikhawatirkan mengganggu pasokan energi,
memperpanjang tekanan inflasi, dan memaksa bank
memperpanjang tekanan inflasi, dan memaksa bank sentral mempertahankan
kebijakan yang lebih ketat.
Tekanan turut datang dari imbal hasil obligasi Treasury
AS tenor 30 tahun yang kembali
AS tenor 30 tahun yang kembali menembus 5,28%. Gubernur The Fed Michael Barr
juga menyatakan bank sentral harus siap menaikkan suku bunga apabila inflasi
gagal mereda dan berisiko semakin mengakar.
Suasana pasar emas dalam jangka pendek masih
cenderung tertekan selama imbal hasil obligasi, dolar AS, dan ekspektasi
kenaikan suku bunga terus mengalami kenaikan. Risiko geopolitik dapat memberikan dukungan
sebagai instrumen aman, tetapi untuk sementara
sebagai instrumen aman, tetapi untuk sementara kekhawatiran inflasi dan kebijakan
hawkish The Fed lebih dominan dalam mengarahkan harga emas.
