
🏠 Beranda › Berita › emas Jatuh Tajam, Sinyal Rate Hike Makin…
Gold
Emas Jatuh Tajam, Sinyal Rate Hike Makin Kuat
Harga emas turun tajam pada perdagangan Selasa (1/9), melanjutkan pelemahan yang dimulai sejak Jumat setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk melawan inflasi. Tekanan bagi XAU/USD semakin besar setelah market menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini.
Pelemahan emas juga diperparah oleh meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah. Konflik yang mendorong harga minyak naik membuat investor khawatir tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama, sehingga memperkuat pandangan bahwa The Fed masih perlu menjaga kebijakan moneter tetap ketat.
Ekspektasi bursa bagi kenaikan suku bunga semakin meningkat. Trader kini memperkirakan peluang hampir 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini.
Gubernur The Fed Michael Barr juga
Gubernur The Fed Michael Barr juga menambah tekanan setelah menuturkan bank sentral harus siap menaikkan suku bunga jika inflasi gagal mereda. Ia memperingatkan bahwa tekanan harga berisiko merupakan semakin mengakar setelah inflasi bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun.
Pada perdagangan terbaru, spot gold turun 2,4% ke US$4.328,79 per troy ounce pada pukul 14.43 waktu New York. Silver merosot 3,5% ke US$64,24 per ounce, sementara platinum dan palladium juga turun. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%, menambah tekanan bagi logam mulia.
Analisa Newsmaker: Penurunan emas kali ini menyiratkan peringkat kembali menempatkan The Fed sebagai faktor dominan, terutama setelah komentar hawkish Warsh dan Barr memperkuat peluang kenaikan suku bunga. Selama dolar AS, yield Treasury, dan ekspektasi rate hike masih melonjak, XAU/USD berisiko tetap tertekan. Area US$4.300 berubah jadi support psikologis penting; jika tembus, emas berpotensi menguji area lebih rendah. Namun, jika ketegangan Timur Tengah memburuk dan permintaan safe haven meningkat, pelemahan emas bisa tertahan. (arl)
