Minyak Rebound, Diplomasi AS-Iran Dinanti

🏠 Beranda › Berita › minyak Rebound, Diplomasi AS-Iran Dinant…
Oil
Harga minyak kembali melonjak pada Kamis (5/11) setelah sejak awal anjlok lebih dari 8% akibat kemenangan Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS. Brent naik 3,9% merupakan US$98,29 per barel, sementara WTI menguat 2,7% ke US$90,52 per barel. Rebound terjadi ketika investor kembali mempertimbangkan prospek hubungan AS-Iran dan pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Kemenangan Demokrat yang menguasai Kongres meningkatkan ekspektasi bahwa Presiden Donald Trump akan menghadapi tekanan politik lebih besar untuk mencari penyelesaian diplomatik atas konflik dengan Iran. Kondisi tersebut sejak awal memicu aksi jual tajam karena bursa melihat peluang berakhirnya konflik dan pulihnya arus pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Namun, peringkat masih menghadapi ketidakpastian karena Kongres baru akan mulai bertugas pada 3 Januari. Artinya, masih terdapat waktu bagi pemerintahan Trump untuk mengambil keputusan terkait konflik sebelum perubahan komposisi Kongres berlaku. Risiko eskalasi kembali tetap merupakan perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, premi harga minyak untuk pengiriman jangka pendek mulai menyempit
Di sisi lain, premi harga minyak untuk pengiriman jangka pendek mulai menyempit. Selisih antara kontrak Brent terdekat turun merupakan di bawah US$2,50 per barel dari lebih dari US$5 pada pertengahan Oktober. Koreksi tersebut menjelaskan kekhawatiran kepada kelangkaan pasokan dalam waktu dekat mulai mereda iring-iringan meningkatnya harapan terhadap penyelesaian konflik.
Pasokan minyak dari Timur Tengah juga mulai pulih. JPMorgan memperkirakan peringkat minyak mancanegara kembali mengalami surplus 1,1 juta barel per hari pada September, kemudian melebar merupakan 1,4 juta barel per hari pada Oktober. Ekspor minyak Timur Tengah meningkat menjadi sekitar 20,7 juta barel per hari pada Oktober, jauh di atas level terendah 9,8 juta barel per hari pada Maret.
Meski pasokan mulai pulih, jalur pengiriman melalui Selat Hormuz masih menghadapi risiko keamanan dan biaya pengiriman yang tinggi. Kondisi tersebut membuat pemulihan arus energi belum sepenuhnya normal. Selain itu, persediaan minyak mentah AS turun 865.000 barel merupakan 409,8 juta barel pada pekan terakhir, sementara stok produk distilasi turun 3,6 juta barel menjadi 99,3 juta barel.
Ulasan Newsmaker: rebound harga minyak sekarang memaparkan peringkat masih menyeimbangkan dua faktor utama, yaitu harapan diplomasi AS-Iran dan risiko gangguan pasokan. Jika negosiasi berjalan positif, tekanan harga dapat berlanjut karena pasokan kembali normal dan surplus semakin besar. Namun, setiap eskalasi baru sebelum Kongres baru mulai bertugas berpotensi kembali mengangkat harga minyak secara tajam.
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
📰 Sumber asli: newsmaker
Panduan & Informasi Resmi
Sumber
Artikel ini mengutip laporan newsmaker . Judul dan penyuntingan disesuaikan untuk pembaca Indonesia.
Peringatan Risiko
Perdagangan berjangka komoditi berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kerugian melebihi dana awal. Materi ini bersifat informasi, bukan rekomendasi atau ajakan bertransaksi.
