🏠 Beranda › Berita › emas Tertekan, Pasar Kembali Fokus ke Th…
Gold
Emas Tertekan, Pasar Kembali Fokus ke The Fed
Harga emas (XAU/USD) kembali merosot pada perdagangan Selasa (22/9)) setelah kenaikan harga minyak dan sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama. Harga emas spot bergerak di sekitar level US$4.340 per troy ounce, setelah di awal sempat berada di area US$4.360.
Tekanan kepada emas muncul setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak mulai meningkat, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen yang tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga tetap tinggi, investor cenderung memilih instrumen dengan imbal hasil karena memberikan keuntungan tambahan dibandingkan menyimpan aset logam mulia.
Pekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Pernyataan beberapa pejabat The Fed, termasuk Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem dan Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee, kembali menegaskan bahwa tekanan inflasi akibat permintaan kuat dan kenaikan harga energi masih merupakan perhatian utama.
Ekspektasi pasar kepada kenaikan suku bunga tambahan juga meningkat
Ekspektasi pasar kepada kenaikan suku bunga tambahan juga meningkat. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan bunga pada pertemuan Desember semakin besar, sehingga memberikan dukungan terhadap dolar AS dan merupakan tekanan bagi emas yang dihargai dalam mata uang tersebut.
Namun, penurunan emas masih tertahan oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, serta konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman masih menjaga permintaan kepada instrumen safe haven. Investor juga terus memantau perkembangan kemungkinan pembicaraan AS–Iran dalam agenda Sidang Umum PBB.
Newsmaker melihat, emas sekarang berada dalam fase tarik-menarik antara tekanan kebijakan moneter The Fed dan dukungan risiko geopolitik. Jika dolar AS kembali mengalami kenaikan dan pasar semakin yakin kepada kenaikan suku bunga lanjutan, emas berpotensi menghadapi tekanan lebih besar. Namun, apabila konflik Timur Tengah kembali meningkat atau ekspektasi kenaikan bunga mulai mereda, peluang rebound emas masih tetap terbuka.
