
🏠 Beranda › Berita › Perang Berkepanjangan Dorong Minyak ke L…
Perang Berkepanjangan Dorong Minyak ke Level Tertinggi Baru
Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Kamis (10/9), dengan Brent menembus US$105 per barel akibat meningkatnya kekhawatiran kepada pasokan energi dari Timur Tengah. Brent kontrak November naik ke sekitar US$105,72 per barel, sementara WTI untuk pengiriman Oktober menembus US$100,39.
Reli minyak semakin kuat setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Teheran menegaskan tidak berniat mundur menghadapi blokade laut AS dan mengancam meningkatkan serangan apabila Washington kembali menyerang wilayah Iran.
Risiko pasokan juga bertambah dari Yaman. Kelompok Houthi yang didukung Iran memperluas tekanan bagi instrumen Arab Saudi dan berhasil memperkuat posisinya di sekitar Mocha, Laut Merah. Kondisi tersebut meningkatkan ancaman terhadap pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, sementara lalu lintas energi melalui Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal.
Brent kini telah melonjak lebih dari
Brent kini telah melonjak lebih dari 70% sejak awal tahun, meski masih berada di bawah puncak masa perang sekitar US$126 per barel yang tercapai pada April. Di peringkat fisik, Dated Brent bahkan diperdagangkan sekitar US$114 per barel karena meningkatnya pembelian dari Asia dan mengetatnya ketersediaan pasokan.
Lonjakan minyak mulai merembet ke berbagai harga energi. Harga diesel ritel AS mendekati US$6 per galon, sementara gasoil Eropa mendekati US$200 per barel. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi berbasis energi akan kembali mengalami kenaikan dan mempersulit langkah bank sentral menurunkan tekanan harga.
Permintaan China juga ikut memperketat bursa setelah pembelian minyak meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Namun, harga yang terlalu tinggi mulai menekan kilang-kilang kecil China dan berpotensi menurunkan aktivitas pemrosesan dalam beberapa pekan mendatang.
Analisa Newsmaker: bias minyak tetap bullish
Analisa Newsmaker: bias minyak tetap bullish selama gangguan pasokan Timur Tengah belum menjelaskan perbaikan. Risiko terbesar berasal dari kemungkinan penurunan kembali arus minyak melalui Hormuz dan meningkatnya ancaman bagi Bab el-Mandeb. Jika kedua jalur tersebut mengalami gangguan lebih serius, Brent berpotensi melanjutkan kenaikan. Namun, pelemahan permintaan akibat harga tinggi, terutama dari China, dapat jatuh ke pembatas reli berikutnya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id
