Emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Yield Treasury Dorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

🏠 Beranda Berita emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Yield…

Gold

Emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Yield Treasury Dorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

📅 2026-09-01   🕐 16:28   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga emas turun tajam pada

perdagangan Selasa setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong

harga minyak lebih tinggi dan memperburuk aksi jual di bursa obligasi dunia.

Pada saat yang sama, pelaku market

Pada saat yang sama, pelaku market semakin meningkatkan ekspektasi bahwa Federal

Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

XAU/USD turun 1,6% menjadi

US$4.377,84 per troy ons, sementara kontrak

US$4.377,84 per troy ons, sementara kontrak berjangka emas turun 1,2% jatuh ke

US$4.426,26. Perak atau XAG/USD turun 2,4% ke US$64,98 per ons, sedangkan

platinum mengalami penurunan 1,2% jatuh ke US$1.774,70. Indeks Dolar AS naik sekitar 0,2% ke

level 99,59.

Tekanan terhadap emas semakin

besar setelah logam mulia tersebut telah kehilangan sekitar US$320 dari level

tertinggi pekan lalu yang berada di

tertinggi pekan lalu yang berada di sekitar US$4.697 per troy ons. Penurunan

terbaru terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi

pemerintah AS yang membuat komoditas tanpa bunga seperti emas berubah jadi relatif kurang

menarik bagi investor.

Tekanan jual juga merupakan

kelanjutan dari pelemahan lebih dari 3% pada Jumat lalu. Saat itu, Ketua

Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen

Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk membawa

inflasi kembali menuju target 2%, sehingga peringkat menangkap sinyal bahwa kebijakan

moneter ketat masih berpotensi berlanjut.

Ekspektasi kepada kenaikan suku

bunga The Fed pun meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, bursa kini

memperkirakan peluang sekitar 66% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis

poin pada pertemuan September. Angka tersebut

poin pada pertemuan September. Angka tersebut melonjak dibandingkan sekitar 40%

sebelum pidato Warsh di Jackson Hole.

Risiko inflasi juga kembali

jatuh ke perhatian setelah harga minyak

jatuh ke perhatian setelah harga minyak melonjak. Brent bergerak di atas US$91

per barel, sementara minyak mentah AS berada di atas US$86 per barel setelah

kembali pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran

bagi potensi gangguan pasokan energi.

Kenaikan harga energi menjadi

perhatian khusus karena dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi

tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar

tersebut berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk

mempertahankan kebijakan moneter hawkish atau bahkan kembali menaikkan suku

bunga apabila tekanan harga terus meningkat.

Di market obligasi, yield Treasury

AS tenor 10 tahun naik hingga sekitar 4,78%, level tertinggi sejak awal 2025.

Aksi jual obligasi juga terjadi secara dunia dan mendorong kenaikan imbal

hasil di sejumlah market utama.

Kombinasi antara penguatan dolar

AS, lonjakan yield Treasury, kenaikan minyak, dan meningkatnya ekspektasi

kenaikan suku bunga menciptakan tekanan kuat

kenaikan suku bunga menciptakan tekanan kuat bagi emas. Yield yang lebih

tinggi meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak

memberikan imbal hasil bunga.(mrv)*

Sumber : Newsmaker.id

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF