🏠 Beranda Berita Minyak Naik Lebih dari 2%, Serangan AS-I…

Oil

Minyak Naik Lebih dari 2%, Serangan AS-Iran Panaskan Hormuz

📅 2026-08-31   🕐 21:23   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak naik lebih dari 2% pada perdagangan Senin (31/8) setelah Amerika Serikat menyerang sebuah pulau Iran di Selat Hormuz dan Teheran mengklaim telah melakukan serangan balasan. Pada harga terbaru, Brent berada di US$90,59 per barel, sementara WTI berada di US$86,14 per barel.

Brent crude futures sejak lama melonjak US$2,35 atau 2,67% ke US$90,45 per barel pada pukul 13.06 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI naik US$2,31 atau 2,77% ke US$85,71 per barel.

Brent sempat menyentuh US$91,52 per barel pada awal perdagangan, berubah jadi level tertinggi sejak 25 Agustus. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bursa kepada potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Militer AS dilaporkan menyerang dua peluncur

Militer AS dilaporkan menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran, yang berada di Selat Hormuz pada Minggu. Serangan tersebut jatuh ke aksi militer langsung pertama yang diketahui dilakukan AS bagi Iran sejak akhir Juli.

Sebagai balasan, media Iran melaporkan bahwa Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania. Laporan itu mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran, sementara market kini fokus pada apakah eskalasi ini akan mereda atau justru berlanjut.

Selat Hormuz masih jatuh ke titik krusial karena sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak mancanegara melewati jalur tersebut. Data pelayaran menyiratkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi selat pada akhir pekan turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari.

Risiko pelayaran juga meningkat setelah United

Risiko pelayaran juga meningkat setelah United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah tanker terkena proyektil saat memasuki Selat Hormuz pada Sabtu. Kondisi ini membuat operator kapal semakin berhati-hati kepada potensi serangan di jalur energi utama dunia.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Washington kemungkinan akan menjatuhkan sanksi sekunder baru bagi Iran setiap pekan. Meski harga minyak melonjak pada Senin, Brent dan WTI masih berada di jalur penurunan bulanan untuk Agustus setelah turun lebih dari 4% pada pekan sejak lama.

Analisa Newsmaker: Kenaikan minyak kali ini menjelaskan premi risiko geopolitik kembali masuk kuat ke bursa setelah serangan militer AS-Iran memanaskan Selat Hormuz. Selama Brent bertahan di atas US$90, psikologi pasar pasar akan tetap sensitif bagi kabar serangan lanjutan, aktivitas kapal, dan sanksi baru AS terhadap Iran. Jika eskalasi berlanjut atau lalu lintas Hormuz makin terganggu, Brent berpeluang menguji kembali area US$92–US$95. Namun, jika ada sinyal de-eskalasi dari mediator, reli minyak bisa cepat terkoreksi karena sebagian kenaikan sekarang dipicu oleh kekhawatiran pasokan jangka pendek. (asd)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF