
Crude Oil Turun Jelang Sanksi Baru AS ke Iran
Harga minyak turun lebih dari US$1 per barel pada perdagangan Senin (24/8), karena investor melakukan aksi ambil untung menjelang pengumuman sanksi baru Amerika Serikat bagi Iran. Sanksi tersebut kemungkinan dapat semakin mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Brent crude Perdagangan Berjangka mengalami penurunan 0,85% ke US$91,38 per barel pada pukul 03.29 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun 1,29% ke US$86,46 per barel.
Meski terkoreksi, kedua kontrak minyak masih mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut pada pekan lalu, dengan penguatan lebih dari 5%. Kenaikan tersebut terjadi setelah pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan, sehingga membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan titik penting karena sejak awal menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketidakpastian di jalur tersebut membuat market tetap waspada bagi risiko gangguan pasokan, meskipun harga minyak sekarang sedang terkoreksi karena profit taking.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu New York atau Selasa dini hari waktu Indonesia. Ia sejak lama mengancam akan menjatuhkan sanksi paling keras dalam sejarah terhadap Iran, sementara Presiden Donald Trump juga mengancam sanksi terhadap mitra dagang Teheran.
Analis Trading Komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, menilai efektivitas kebijakan AS untuk mengisolasi ekonomi Iran masih belum jelas. Namun, jika langkah tersebut berjalan sesuai tujuan Washington, risiko respons Iran melalui peningkatan kekerasan akan berubah jadi perhatian besar bagi peringkat energi.
Iran mengecam rencana sanksi baru AS, meskipun Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan solusi diplomatik. Analis IG Markets Tony Sycamore menilai kelompok pragmatis dalam kepemimpinan Iran kemungkinan ingin meredakan eskalasi, sementara kelompok garis keras cenderung memilih perlawanan hingga akhir.
Tekanan pasokan juga mulai terlihat dari menurunnya penawaran minyak Iran kepada pembeli China, sementara harga ikut naik setelah blokade AS memangkas pengiriman Teheran. Meski demikian, Iran dilaporkan telah mengizinkan sejumlah tanker minyak Irak melewati Selat Hormuz setelah permintaan berulang dari Baghdad.
analisa Newsmaker:Koreksi minyak kini lebih menggambarkan aksi ambil untung setelah reli tajam, bukan tanda bahwa risiko fundamental sudah mereda. Selama sanksi baru AS bagi Iran berpotensi mempersempit pasokan dan arus kapal di Selat Hormuz belum kembali normal, Brent masih memiliki dukungan kuat di area atas. Namun, market akan sangat sensitif terhadap respons Iran; jika Teheran memilih eskalasi, harga minyak bisa kembali melonjak, tetapi jika jalur diplomasi mulai terbuka, Brent dan WTI berisiko mengalami koreksi lanjutan. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
