Minyak dunia turun setelah OPEC+ menyetujui peningkatan produksi sebesar 547.000 barel per hari mulai September, menambah kekhawatiran Pasar soal kelebihan pasokan. Harga Brent turun mendekati $69 per barel, sementara West Texas Intermediate mendekati $67. Peningkatan produksi ini melanjutkan tren pemulihan pasokan yang dimulai tahun lalu, saat OPEC+ mulai mencabut pemotongan besar-besaran yang mereka lakukan untuk menstabilkan Pasar.
Peningkatan pasokan ini terjadi di tengah melemahnya perekonomian global yang dipengaruhi oleh perang dagang dan perlambatan ekonomi AS. Data pekerjaan AS yang lemah baru-baru ini membuat para pedagang khawatir konsumsi energi bisa melemah. Selain itu, terdapat ancaman sanksi baru dari AS terhadap pembeli Minyak Rusia, termasuk India, yang dapat mempengaruhi aliran Minyak global dan meningkatkan penjualan Pasar.
Goldman Sachs memperkirakan Harga Minyak Brent akan turun ke rata-rata $64 per barel pada kuartal keempat tahun ini, lalu turun lebih jauh menjadi $56 pada tahun 2026. Analis juga mencatat bahwa meskipun OPEC+ tetap fleksibel dalam kebijakan produksinya, keputusan untuk meningkatkan pasokan bulan depan akan menyelesaikan pembalikan pemotongan produksi yang dilakukan sejak 2023.
Situasi geopolitik dan ekonomi global menjadi faktor utama yang membuat Pasar Minyak tetap waspada. Trump bahkan mengancam sanksi baru terhadap pembeli Minyak Rusia dan mengirim utusan khusus ke Moskow untuk mendorong gencatan senjata di Ukraina. Para investor kini menantikan perkembangan lebih lanjut terkait sanksi, data ekonomi AS, serta tingkat persediaan Minyak sebelum mengambil keputusan besar di Pasar.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id

By IT EF