Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa dengan Gold?

🏠 Beranda › Berita › emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa d…
Gold
Emas Anjlok di Bawah US$4.100, Ada Apa dengan Gold?
Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), setelah menembus level psikologis US$4.100 per troy ounce. Berdasarkan pantauan market, emas spot (XAU/USD) merosot ke sekitar US$4.088,80 atau mengalami penurunan 1,30%, memperpanjang tekanan jual yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor kepada prospek suku bunga Amerika Serikat (AS), di tengah ketidakpastian ekonomi mancanegara dan konflik geopolitik yang belum mereda.
Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah kekhawatiran inflasi AS akibat tingginya harga minyak dunia. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan kepada infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak, meningkatkan risiko kenaikan biaya energi. Kondisi tersebut dapat membuat inflasi bertahan lebih lama dan mendorong Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat. Situasi ini merupakan tantangan bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
Menariknya, penurunan emas kali ini terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) juga merosot 0,10% ke level 101,247, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,082%. Kondisi tersebut menyiratkan bahwa tekanan kepada emas tidak semata-mata disebabkan oleh penguatan dolar atau kenaikan yield. Aksi ambil untung, penyesuaian posisi menjelang keputusan The Fed, serta kemungkinan likuidasi pada bursa logam mulia turut berpotensi memperbesar tekanan jual. Pelemahan juga melanda perak yang turun 2,71% ke sekitar US$56,405 per troy ounce.
Pelaku market kini menantikan pertemuan kebijakan moneter The Fed pada 27–28 Oktober 2026. Bank sentral AS kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, tetapi ekspektasi kenaikan bunga pada Desember masih membayangi pasar. Ketidakpastian ini membuat investor lebih berhati-hati dalam menambah posisi emas, meskipun konflik Timur Tengah secara historis dapat meningkatkan permintaan kepada instrumen aman.
Ke depan, harga emas berisiko melanjutkan pelemahan apabila tekanan jual bertahan dan ekspektasi suku bunga tinggi semakin naik. Secara teknikal, kawasan US$4.073 merupakan area support yang perlu diperhatikan, sementara US$4.100 hingga US$4.135 berpotensi menjadi hambatan awal apabila harga mencoba pulih. Namun, pelemahan dolar AS, penurunan yield Treasury, atau perubahan sikap The Fed yang lebih dovish dapat membuka peluang rebound. Untuk di tengah, perhatian investor tertuju pada apakah emas mampu kembali merebut US$4.100 atau justru melanjutkan penurunan menuju US$4.000 per troy ounce.(asd)
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
📰 Sumber asli: newsmaker
Panduan & Informasi Resmi
Sumber
Artikel ini mengutip laporan newsmaker . Judul dan penyuntingan disesuaikan untuk pembaca Indonesia.
Peringatan Risiko
Perdagangan berjangka komoditi berisiko tinggi dan dapat menyebabkan kerugian melebihi dana awal. Materi ini bersifat informasi, bukan rekomendasi atau ajakan bertransaksi.
