🏠 Beranda › Berita › Gold Stabil, Inflasi dan Konflik Timur T…
Gold
Gold Stabil, Inflasi dan Konflik Timur Tengah Jadi Beban
- try ounce, sementara harga minyak Brent bertahan dekat US$107 per barel
- meningkatkan risiko gangguan kepada pasokan energi dan mendorong harga minyak
- The Fed berikutnya
- ekspektasi inflasi tetap terkendali, tetapi belum memberikan dukungan kepada
- tarik-menarik antara risiko geopolitik dan tekanan moneter
- AS menjelaskan inflasi yang lebih panas dari perkiraan, tekanan kepada Gold
Harga emas bergerak relatif
terbatas pada perdagangan Selasa (13/10), setelah sejak awal mengalami tekanan
akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi. Saat berita ini di tulis $4.166 per
try ounce, sementara harga minyak Brent bertahan dekat US$107 per barel
try ounce, sementara harga minyak Brent bertahan dekat US$107 per barel.
Kenaikan harga energi akibat eskalasi Timur Tengah kembali merupakan perhatian
karena berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi.
Tekanan kepada Gold meningkat
setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan kepada Arab
Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Eskalasi tersebut
meningkatkan risiko gangguan kepada pasokan energi dan mendorong harga minyak
meningkatkan risiko gangguan kepada pasokan energi dan mendorong harga minyak
naik. Jika tekanan energi berlanjut, bank sentral berpotensi mempertahankan
suku bunga tinggi lebih lama, sehingga merupakan hambatan bagi komoditas non-yielding
seperti emas.
Investor kini menunggu data CPI
AS yang akan dirilis Rabu (14/10) untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah
The Fed berikutnya
The Fed berikutnya. Bank sentral AS telah menaikkan suku bunga pada bulan lalu
untuk mengendalikan inflasi. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menyatakan
penyesuaian kebijakan yang lebih kecil dan lebih sering dapat membantu menjaga
ekspektasi inflasi tetap terkendali, tetapi belum memberikan dukungan kepada
ekspektasi inflasi tetap terkendali, tetapi belum memberikan dukungan kepada
kenaikan suku bunga pada Oktober.
Newsmaker melihat, Gold di tengah berada dalam
tarik-menarik antara risiko geopolitik dan tekanan moneter
tarik-menarik antara risiko geopolitik dan tekanan moneter. Konflik Timur
Tengah dapat meningkatkan permintaan safe haven, tetapi kenaikan harga minyak
justru berpotensi memperkuat inflasi dan mendorong yield lebih tinggi. Jika CPI
AS menjelaskan inflasi yang lebih panas dari perkiraan, tekanan kepada Gold
AS menjelaskan inflasi yang lebih panas dari perkiraan, tekanan kepada Gold
berpotensi berlanjut. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat membuka ruang
bagi emas untuk kembali mengalami kenaikan.
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
