IHSG dan Rupiah Tertekan, Begini Datanya

🏠 Beranda › Berita › IHSG dan Rupiah Tertekan, Begini Datanya

IHSG dan Rupiah Tertekan, Begini Datanya

📅 2026-10-06   🕐 06:55   ⏱️ 3 menit baca   📰 Sumber: Detik Finance💬 WA📘 FB🐦 X

Market keuangan Indonesia tengah menghadapi tekanan. Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam sepanjang September, sementara nilai tukar rupiah turun kepada dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura.

Di bursa saham, tekanan ditandai dengan keluarnya dana investor asing dalam jumlah besar. Sementara itu, dolar AS telah menembus level Rp 17.900 dan dolar Singapura semakin mendekati Rp 14.000.

Kepala Eksekutif Pengawas Peringkat Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut investor asing melakukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp 10,24 triliun di pasar saham di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan dunia. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Agustus dengan net buy Rp 1,19 triliun.

"Investor asing membukukan net sell di peringkat saham senilai Rp 10,24 triliun, sementara di bulan Agustus 2026 lalu menempuh net buy investor asing sebesar Rp 1,19 triliun," kata Hasan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan secara virtual, Senin (5/10/2026).

Tekanan tersebut tercermin pada gerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di 6.071,14 pada akhir September atau terkoreksi 6,96% secara month-to-month. Pergerakan peringkat saham domestik sepanjang September dipengaruhi meningkatnya volatilitas pasar keuangan mancanegara sejalan eskalasi tensi geopolitik dan kenaikan suku bunga global.

Meski demikian, OJK menilai daya tahan dan likuiditas peringkat modal domestik masih terjaga. Rata-rata bid-ask spread pasar saham 1,2%, relatif stabil dibandingkan bulan di awal 1,17%.

Tekanan juga terjadi di market obligasi

Tekanan juga terjadi di market obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada September 2026 ditutup pada level 439,05 atau turun 0,23% secara bulanan.

Di tengah kenaikan imbal hasil obligasi mancanegara dan ketidakpastian global, tekanan keluarnya dana investor asing dari bursa Surat Berharga Negara (SBN) dinilai masih terbatas. Investor asing melakukan net sell Rp 340 miliar sepanjang September.

Kinerja industri pengelolaan investasi turut mengalami penyesuaian. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana menempuh Rp 637,07 triliun atau turun 2,42% secara bulanan.

Tekanan di market keuangan juga terlihat pada gerakan nilai tukar rupiah

Tekanan di market keuangan juga terlihat pada gerakan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda kompak mengalami penurunan kepada dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura hingga perdagangan siang kemarin.

Dolar AS mengalami kenaikan cukup tinggi ke level Rp 17.900 pada perdagangan Senin siang. Penguatan juga terjadi pada dolar Singapura yang terus mendekati level Rp 14.000 kepada rupiah.

Dikutip dari Bloomberg , Senin (5/10/2026), dolar AS diperdagangkan pada level Rp 17.941. Mata uang Paman Sam mengalami kenaikan sebesar 59 poin atau 0,33%.

Sementara itu, dolar Singapura selangkah lagi menyentuh level Rp 14.000

Sementara itu, dolar Singapura selangkah lagi menyentuh level Rp 14.000. Mata uang milik Negeri Singa mengalami kenaikan sebesar 6,72 poin atau 0,05% dan berada pada level Rp 13.997.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi 7,74% secara year to date (ytd). Pelemahan nilai tukar ini dinilai masih beriringan dengan gerakan mata uang negara-negara tetangga.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Komoditi Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan gerakan nilai tukar sebuah negara dipengaruhi oleh faktor dunia dan domestik, termasuk yang bersifat suasana pasar dan kebutuhan. Contohnya, keputusan Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga hingga konflik di Selat Hormuz yang mengakibatkan terjadinya gangguan kepada pasokan energi.

Pelaku peringkat akan melihat kondisi fiskal AS di ambang defisit sehingga akan menerbitkan surat utang lebih banyak dengan suku bunga lebih tinggi. Hal inilah yang membuat posisi indeks nilai dolar AS (DXY) melampaui level 101 dan membuat mata uang negara lain mengalami penurunan.

"Ketika DXY, indeks dollar melonjak, kira-kira mata uang lain? Mengalami penurunan," ujar Erwin dalam Taklimat Media di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Sementara itu berdasarkan Google Finance, dolar Singapura bergerak naik secara konsisten pada 2026. Dolar Singapura masih diperdagangkan di level Rp 12.900-an pada awal Januari 2026, namun nilainya terus naik hingga sempat tembus level Rp 14.000 pada Juni, Juli, Agustus, dan September.

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Detik Finance

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
📖 Baca juga: Glossarium Trading

By IT EF