🏠 Beranda › Berita › Minyak Bertahan Tinggi, Pasar Waspadai R…
Oil
Minyak Bertahan Tinggi, Pasar Waspadai Risiko Hormuz
Harga minyak mentah bergerak melonjak untuk sesi kedua berturut-turut pada perdagangan Selasa (29/9), meskipun sebagian kenaikan awal mulai berkurang. Koreksi harga minyak masih didukung oleh kekhawatiran pasar kepada potensi gangguan pasokan energi akibat belum adanya perkembangan signifikan dalam diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga Brent crude futures naik tipis 0,1% ke level US$105,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 0,1% ke sekitar US$92,77 per barel. Sejak awal, Brent sempat melonjak mendekati US$109 per barel pada sesi sebelumnya sebelum akhirnya ditutup di kisaran US$105 per barel.
Ketidakpastian terkait hubungan AS-Iran kembali merupakan perhatian setelah belum tercapai kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Mediator Qatar dilaporkan akan melakukan pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran dan pejabat Amerika Serikat terkait revisi proposal tujuh hari yang sejak lama diajukan Tehran.
Namun, kedua pihak masih menjelaskan sikap hati-hati dan was-was kepada peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat, terutama menjelang pemilihan sela Amerika Serikat pada November. Kondisi tersebut membuat investor tetap memperhitungkan adanya risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak juga memberikan dampak kepada pasar keuangan dunia karena meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Tekanan harga energi dinilai dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Meski demikian, terdapat tanda pemulihan aliran ekspor minyak fisik dari kawasan Timur Tengah yang dapat membatasi kenaikan harga lebih lanjut apabila kondisi pasokan terus membaik.
