🏠 Beranda › Berita › emas Rebound, Tapi Tekanan Fed Masih Men…
Gold
Emas Rebound, Tapi Tekanan Fed Masih Mengintai
Harga emas bergerak melonjak tipis pada perdagangan Selasa setelah sejak lama mengalami tekanan besar hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan. Kenaikan harga emas terjadi sejalan aksi jual obligasi pemerintah Amerika Serikat mulai mereda, meskipun ekspektasi peringkat kepada kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) masih membatasi ruang penguatan logam mulia.
Harga emas spot naik sekitar 0,6% ke level US$4.140,21 per ounce setelah sejak lama anjlok hampir 4% pada sesi Senin. Koreksi ini terjadi ketika imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 5,23%, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam 19 tahun akibat meningkatnya kekhawatiran kepada inflasi dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Kondisi pasar kepada emas masih dibayangi oleh kenaikan harga minyak mentah Brent yang telah naik selama dua hari berturut-turut. Tekanan pasokan energi meningkat setelah pejabat Iran menyatakan keraguan terhadap peluang tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat sebelum pemilu sela AS pada November, menyusul penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selain faktor geopolitik
Selain faktor geopolitik, tekanan kepada peringkat obligasi AS juga merupakan perhatian investor. Aksi jual Treasury yang berlangsung sejak konflik AS-Iran meningkat pada akhir Februari semakin intensif dalam beberapa waktu terakhir, mendorong kenaikan biaya pinjaman dan meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut membuat komoditi tanpa imbal hasil seperti emas menghadapi tantangan karena investor lebih mempertimbangkan daya tarik aset berbasis yield.
Sepanjang September, harga emas telah turun sekitar 7% setelah sejak awal mencapai level tertinggi sekitar US$4.510 per ounce. Market kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di kisaran 70%, sementara investor menunggu data penting seperti Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Rabu dan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya. Jika yield tetap tinggi, area US$4.000 merupakan level psikologis yang kembali diperhatikan pasar.
