Emas Freeport Masuk ke HRTA, BYAN Mulai Produksi Lagi

🏠 Beranda › Berita › Emas Freeport Masuk ke HRTA, BYAN Mulai …

Emas Freeport Masuk ke HRTA, BYAN Mulai Produksi Lagi

📅 2026-09-25   🕐 08:23   ⏱️ 3 menit baca   📰 Sumber: Detik Finance💬 WA📘 FB🐦 X

Gerakan IHSG masih berada di zona merah pada perdagangan Kamis (24/9). IHSG ditutup turun 1,20% ke level 6.298,61.

Sejumlah saham terekam bergerak positif dan merupakan penggerak indeks, yakni FORU yang naik 24,58%, DCII sebesar 1,52%, serta DSSA yang naik 1,87%. Di sisi lain, saham BMRI terkoreksi 2,86%, BBRI turun 1,57%, dan BBCA turun 1,19%.

Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Di peringkat reguler, asing mencatatkan net sell Rp1,42 triliun, sedangkan jika dihitung di seluruh pasar, net sell mencapai Rp1,49 triliun.

Seluruh 11 sektor saham di BEI berakhir turun

Seluruh 11 sektor saham di BEI berakhir turun. Sektor Basic Materials merupakan sektor dengan penurunan paling dalam, yakni 2,17%.

Sementara dari bursa AS, perdagangan ditutup bervariasi. Dow Jones turun 0,31% ke 51.349, S&P 500 mengalami penurunan tipis 0,02% ke 7.704, sedangkan Nasdaq naik tipis 0,01% ke 26.939.

Koreksi saham-saham bank besar turut menekan IHSG. Empat bank besar secara keseluruhan memberikan kontribusi negatif 26 poin, terdiri dari BBCA sebesar -9,79 poin, BBRI -7,29 poin, BMRI -6,61 poin, dan BBNI -2,31 poin. Gerakan ini juga berlangsung di tengah pelemahan ETF EIDO sebesar 1,71% dan MSCI Indonesia sebesar 1,56%.

HRTA menambah sumber pasokan emas domestik melalui kerja sama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Kerja sama tersebut dituangkan dalam Gold Bar Spot Sale and Purchase Agreement untuk pembelian emas murni berkadar 99,99%. Emas yang dibeli berbentuk cast bars dengan berat 1 kilogram dan diproduksi melalui fasilitas Precious Metal Refinery milik PTFI di Gresik, Jawa Timur.

Pada tahap awal, HRTA telah melakukan pembelian sebanyak 50 kilogram emas murni. Emas tersebut telah diterima di fasilitas HRTA yang berada di Bandung pada 16 September 2026.

Kerja sama dengan PTFI menambah daftar sumber pasokan domestik HRTA. Sejak lama, perseroan telah menjalin kerja sama dengan unit tambang emas Grup United Tractors (UNTR), yaitu Agincourt Resources (PTAR/Tambang Emas Martabe) dan Danusa Tambang Nusantara (DTN), serta fasilitas pemurnian Emas Murni Abadi (EMA).

Kemitraan tersebut diteken pada April 2026

Kemitraan tersebut diteken pada April 2026. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan rantai pasok emas HRTA dari sumber bahan baku dalam negeri hingga proses pengolahan dan manufaktur.

Ekspansi juga dilakukan pada sisi kapasitas. HRTA menargetkan kapasitas pabrik terintegrasi mencapai 60 ton per tahun, sementara kapasitas refinery ditingkatkan merupakan 30 ton per tahun dari sejak lama 18 ton.

BYAN mencabut status force majeure yang di awal berlaku pada tiga anak usahanya, yaitu Tiwa Abadi (TA), Tanur Jaya (TJ), dan Fajar Sakti Prima (FSP). Status tersebut dicabut setelah ketiga perusahaan memperoleh persetujuan lengkap atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian ESDM pada 23 September 2026.

Dengan persetujuan tersebut

Dengan persetujuan tersebut, ketiga anak usaha BYAN dapat kembali menjalankan kewajiban penyediaan batu bara sesuai Coal Supply Agreement kepada pelanggan. Aktivitas produksi, pengangkutan, dan penjualan juga dapat dilanjutkan.

Selain itu, perubahan RKAB memberikan tambahan kuota produksi hingga 20 juta ton. Tambahan kuota tersebut membuat ruang produksi ketiga entitas merupakan lebih besar dibanding kondisi sejak lama.

NICL memutuskan pembagian dividen tunai interim untuk periode buku Juni 2026 sebesar Rp6 per saham. Total dividen yang akan dibagikan mencapai Rp63,81 miliar. Keputusan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Direksi dengan persetujuan Dewan Komisaris pada 23 September 2026.

Dari sisi kinerja keuangan

Dari sisi kinerja keuangan, NICL mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp121,60 miliar untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026. Total komoditi perseroan terekam Rp962,05 miliar, sementara kekayaan bersih mencapai Rp831,24 miliar.

Dengan nilai dividen tersebut, dividend payout ratio mencapai 52,48% dari laba bersih semester I-2026. Setelah pembagian dividen, kekayaan bersih NICL diproyeksikan merupakan Rp767,43 miliar. Nilai tersebut masih berada di atas modal disetor dan cadangan wajib yang menempuh sebesar Rp468,66 miliar, sesuai ketentuan Pasal 72 UUPT.

Pada perdagangan 24 September 2026, saham NICL ditutup di level Rp434 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim Rp6 per saham setara dengan dividend yield 1,38%.

Adapun perseroan belum menetapkan jadwal cum date dan tanggal pembayaran dividen. Kedua tanggal tersebut akan diumumkan lebih lanjut oleh NICL.

JARR – Buy 3550-3570 | TP 3630-3680 | SL 3330

[Gambas:Produk investasi by Investasiku]

DSSA – Buy 1075-1085 | TP 1105-1130 | SL 1030

ENRG – Buy 1295-1305 | TP 1320-1340 | SL 1220

DSNG – Buy 1590-1600 | TP 1620-1650 | SL 1500

PART – Buy 116-118 | TP 121-123 | SL 110

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Detik Finance

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF