
🏠 Beranda › Berita › Minyak Terus Cetak Level Tertinggi, Konf…
Minyak Terus Cetak Level Tertinggi, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Harga minyak melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (8/9), didorong meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah kelompok Houthi menyerang fasilitas energi Arab Saudi dan serangan di sekitar Selat Hormuz terus berlanjut. WTI ditutup naik 1,9% jatuh ke US$93,03 per barel, level penutupan tertinggi dalam sekitar tiga bulan, sementara Brent naik 0,9% menjadi US$97,92 per barel, tertinggi sejak 23 Juli.
Tekanan kepada bursa energi meningkat setelah serangan Houthi yang didukung Iran menargetkan sejumlah fasilitas dan kota di Arab Saudi. Serangan tersebut melukai puluhan orang dan menyebabkan gangguan operasional pada sejumlah fasilitas energi, meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat menyebar lebih jauh ke pusat produksi minyak kawasan Teluk.
Selat Hormuz tetap berubah jadi perhatian utama market. Lalu lintas kapal melalui jalur strategis tersebut terus melambat, sementara Iran kembali memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran apabila serangan bagi asetnya berlanjut. Gangguan yang berkepanjangan berpotensi mempertahankan premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
David Grumhaus, Chief Investment Officer Duff
David Grumhaus, Chief Investment Officer Duff & Phelps Investment Management, menilai belum terlihat jalan keluar yang jelas untuk mengakhiri konflik dengan cepat. Posisi negosiasi Iran yang dinilai masih cukup kuat serta konflik yang terus berlangsung membuat harga minyak berpotensi bertahan pada level tinggi.
Faktor lain yang menopang minyak adalah terbatasnya ruang Amerika Serikat untuk terus menggunakan Strategic Petroleum Reserve. Cadangan strategis AS telah terkuras cukup besar dibandingkan beberapa tahun sejak lama, sehingga kemampuan pemerintah untuk menahan kenaikan harga melalui pelepasan cadangan merupakan lebih terbatas.
Meski demikian, Brent masih belum mampu menembus US$100. Pasokan melalui Hormuz belum berhenti sepenuhnya, produsen Teluk menggunakan jalur ekspor alternatif, sementara tambahan produksi dari negara non-OPEC dan tingginya stok China membantu menahan kenaikan harga yang lebih ekstrem.
Analisa Newsmaker: fundamental minyak masih cenderung
Analisa Newsmaker: fundamental minyak masih cenderung bullish selama eskalasi di Timur Tengah terus mengancam infrastruktur energi dan arus tanker melalui Hormuz. WTI yang sudah mencapai level tertinggi tiga bulan memperlihatkan premi geopolitik kembali naik. Namun, untuk membawa Brent bertahan jauh di atas US$100, bursa kemungkinan membutuhkan gangguan pasokan fisik yang lebih besar. Sebaliknya, tanda-tanda deeskalasi atau normalisasi pelayaran Hormuz dapat dengan cepat memangkas sebagian premi risiko tersebut.(yds)
