
🏠 Beranda › Berita › Minyak Jelantah dari MBG Bakal 'Disulap'…
Minyak Jelantah dari MBG Bakal 'Disulap' Jadi Avtur Ramah Lingkungan
PT Pertamina Patra Niaga memanfaatkan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) diolah merupakan bahan bakar pesawat ramah lingkungan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Dalam hal tersebut, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan dua skema bisnis dalam menjaga pasokan minyak jelantah.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro menyatakan skema pertama menyasar langsung masyarakat hingga komunitas. Pengumpulan minyak jelantah dari rumah tangga dilakukan melalui penyediaan fasilitas khusus, seperti dispenser pengumpul UCO (drop box).
"Ada dispenser-dispenser untuk mengumpulkan ya barangkali pernah lihat baik itu di kilang maupun di MOR (Marketing Operation Region), dikumpulkan," ujar Hermawan dalam acara Pertamina Media Xpose di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, pengumpulan berbasis komunitas rumah tangga dinilai memiliki keterbatasan dalam kecepatan dan volume pasokan. Ia menyebut pihaknya juga bekerja sama dengan usaha lain agar pasokan minyak jelantah lebih masif.
Salah satunya, strategi melalui skema antarbisnis (B2B). Kerja sama dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak strategis, termasuk pelaku usaha sektor HoReKa (Hotel, Restoran, Kafe), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kemudian juga skema business-to-business, jadi dari
"Kemudian juga skema business-to-business, jadi dari SPPG, HoReKa, KDMP," tambah ia.
Hermawan menjelaskan harga pembelian yang ditawarkan pada setiap skema berbeda. Pada skema B2B, harganya lebih tinggi. Namun, untuk skema B2C, harga pembelian minyak jelantah mencapai Rp 6.000 per liter.
