🏠 Beranda › Berita › Timur Tengah Kembali Memanas, Harga Miny…
Oil
Timur Tengah Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Berbalik Menguat
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (14/10), bersamaan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat serangan kelompok Houthi kepada Arab Saudi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,55% merupakan US$94,66 per barel setelah di awal ditutup sedikit turun pada perdagangan Selasa. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi mancanegara, terutama dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat produksi minyak terbesar dunia.
Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangkaian serangan rudal kepada sejumlah kota besar Arab Saudi, termasuk fasilitas perusahaan minyak nasional Saudi Aramco. Serangan tersebut juga menyebabkan otoritas Arab Saudi menutup Bandara Internasional Riyadh selama sedikitnya satu pekan. Eskalasi konflik ini semakin meningkatkan kekhawatiran bursa karena serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur pengiriman minyak berpotensi menghambat distribusi minyak mentah menuju pasar internasional.
Ketidakpastian pasokan semakin besar akibat terbatasnya aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, setelah sejumlah kapal dilaporkan kembali merupakan sasaran serangan ketika melintasi jalur strategis tersebut. Di sisi lain, konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung turut memberikan dukungan kepada harga minyak, meskipun sejak lama muncul harapan peningkatan pasokan melalui kesepakatan energi antara Amerika Serikat dan Rusia. Gangguan produksi minyak di kawasan Teluk Amerika Serikat akibat badai juga memperketat kekhawatiran pasokan setelah lebih dari 60% produksi di wilayah terdampak sempat dihentikan.
Ke depan, gerakan harga minyak diestimasi tetap sensitif kepada perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya keamanan fasilitas energi Arab Saudi dan kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Jika serangan terus meningkat dan mengganggu produksi maupun pengiriman minyak, harga minyak berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, meredanya konflik serta membaiknya pasokan dunia dapat membatasi kenaikan harga. Pelaku peringkat juga akan memperhatikan dampak lonjakan energi terhadap inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, mengingat harga minyak yang tinggi berpotensi memperkuat tekanan inflasi global.(CP)
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
