
🏠 Beranda › Berita › Minyak Tertekan,Trump Umumkan Gencatan S…
Oil
Minyak Tertekan,Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Rusia-Ukraina
Harga minyak mentah turun pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (12/10), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina pada akhir pekan. Kontrak berjangka minyak Brent pengiriman Desember turun sekitar 1,2% merupakan US$103,49 per barel pada perdagangan awal. Penurunan tersebut mencerminkan respons market kepada kemungkinan berkurangnya gangguan pasokan energi Rusia, sekaligus aksi ambil untung setelah harga minyak mencatat penguatan pada pekan sejak awal.
Trump menyatakan Rusia dan Ukraina telah menyepakati penghentian serangan kepada infrastruktur energi yang berlaku segera. Namun, pengumuman tersebut belum memperoleh konfirmasi bersama dari Moskow dan Kyiv, sehingga menimbulkan keraguan mengenai pelaksanaannya. Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas pengolahan dan distribusi minyak Rusia yang mengakibatkan gangguan pasokan diesel internasional. Trump juga sejak lama mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dengan Rusia sebagai bagian dari upaya menekan harga bahan bakar yang meningkat tajam.
Meski demikian, penurunan harga minyak masih dibatasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran terus berlangsung, termasuk serangan kepada Riyadh pada akhir pekan. Kekhawatiran pasokan juga meningkat setelah Iran menilai proposal Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz belum memadai. Serangan terhadap kapal tanker dan gangguan jalur perdagangan energi di kawasan tersebut mempertahankan premi risiko geopolitik, sehingga membatasi tekanan jual terhadap minyak meskipun muncul harapan meredanya konflik Rusia-Ukraina.
Kepada dolar AS
Kepada dolar AS, pelemahan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi di Amerika Serikat, terutama apabila penurunan harga energi berlangsung secara berkelanjutan. Kondisi tersebut dapat meredakan ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve dan menekan yield Treasury, sehingga berpotensi membatasi penguatan dolar. Namun, ketidakpastian pelaksanaan gencatan senjata Rusia-Ukraina serta konflik Timur Tengah yang belum mereda dapat kembali meningkatkan permintaan dolar sebagai komoditas safe haven. Dengan demikian, arah dolar masih akan bergantung pada perkembangan geopolitik, koreksi harga minyak, serta perubahan ekspektasi suku bunga Fed.(CP)
📰 Sumber asli: Newsmaker.id
📈 Mulai Trading Sekarang
Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.
