🏠 Beranda › Berita › Brent Tembus US$107, Konflik Iran Jadi S…

Brent Tembus US$107, Konflik Iran Jadi Sorotan Pasar

📅 2026-09-25   🕐   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis (24/9) setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Brent crude bergerak di sekitar US$107,20 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$94,61 per barel, setelah kenaikan sekitar 3% pada perdagangan terbaru. Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangan rudal kelompok Houthi kepada Arab Saudi kembali meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke wilayah selatan Taif dan kawasan Yanbu di Laut Merah. Serangan tersebut kembali mengingatkan pasar bahwa infrastruktur energi dan jalur perdagangan dunia masih rentan kepada eskalasi konflik, terutama ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum menemukan titik penyelesaian.

Di sisi lain, pasar tetap mencermati perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Amerika Serikat dan Iran disebut tengah membahas kemungkinan penyelesaian bertahap, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dengan imbalan pengurangan blokade ekonomi kepada Iran. Namun, kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing karena Selat Hormuz merupakan komoditi strategis dalam negosiasi.

Selain faktor geopolitik

Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada pasokan energi dunia yang semakin ketat, khususnya sektor diesel. Rencana pembatasan ekspor diesel AS yang sempat muncul merupakan kekhawatiran baru bagi pasar energi, meskipun pejabat AS membantah adanya keputusan final terkait kebijakan tersebut. Kekurangan pasokan diesel global juga dipengaruhi oleh gangguan ekspor Rusia dan konflik di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, Arab Saudi mulai meningkatkan kembali aktivitas distribusi minyak melalui East-West Pipeline menuju fasilitas ekspor Yanbu di Laut Merah. Langkah ini merupakan salah satu upaya Riyadh untuk mengurangi ketergantungan kepada jalur Selat Hormuz yang menjadi titik panas konflik antara Iran dan negara-negara Barat.

Tinjauan Newsmaker: Gerakan minyak sekarang masih berada dalam tarik-menarik antara risiko geopolitik dan harapan penyelesaian diplomasi. Serangan Houthi dan ketidakpastian hubungan AS-Iran memberikan dorongan naik bagi harga minyak, sementara potensi pembukaan kembali Selat Hormuz serta pemulihan distribusi Saudi merupakan faktor yang dapat membatasi kenaikan. Pasar akan terus mencermati apakah jalur diplomasi mampu meredakan risiko pasokan atau justru konflik kembali meningkat.

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures
📖 Baca juga: Glossarium Trading

By IT EF