Minyak Menguat, Brent Tembus US$100 di Tengah Eskalasi Timur Tengah

🏠 Beranda Berita minyak Menguat, Brent Tembus US$100 di T…

Minyak Menguat, Brent Tembus US$100 di Tengah Eskalasi Timur Tengah

📅 2026-09-11   🕐   ⏱️ 1 menit baca   📰 Sumber: Newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Harga minyak menguat pada perdagangan Rabu (9/9), dengan Brent crude sempat menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 24 Juli. Kenaikan ini terjadi setelah konflik Timur Tengah kembali meningkat dan memicu kekhawatiran kepada gangguan pasokan energi mancanegara.

Brent crude futures naik hingga menyentuh area US$100,19 per barel, sementara WTI bergerak mendekati area US$95 per barel. Ayunan ini memaparkan peringkat masih memasukkan premi risiko geopolitik yang besar, terutama karena jalur pasokan dari kawasan Teluk kembali merupakan sorotan.

Suasana pasar utama datang dari meningkatnya serangan di Timur Tengah, termasuk ketegangan AS-Iran serta serangan kelompok Houthi bagi fasilitas energi dan kota-kota di Arab Saudi. Eskalasi tersebut membuat investor khawatir gangguan pasokan dapat berlangsung lebih lama dan mendorong harga minyak tetap tinggi.

Selain itu, peringkat juga mencermati kondisi

Selain itu, peringkat juga mencermati kondisi pasokan fisik minyak yang semakin ketat. Dated Brent, yang jatuh ke acuan harga untuk sebagian besar pasokan dunia, dilaporkan sudah berada di atas US$100 per barel sejak 3 September, mencerminkan tekanan yang lebih nyata di pasar fisik.

Kenaikan harga minyak juga menambah kekhawatiran inflasi mancanegara. Jika harga energi bertahan tinggi, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga tekanan tidak hanya terasa di market komoditas, tetapi juga pada saham, obligasi, dan mata uang.

Ulasan Newsmaker: Gerakan Brent di sekitar US$100 dan WTI dekat US$95 menjelaskan market minyak masih berada dalam fase bullish yang didorong risiko pasokan. Selama konflik AS-Iran, gangguan di Selat Hormuz, dan serangan bagi fasilitas energi Saudi belum mereda, harga minyak berpotensi tetap tinggi. Namun, area US$100 juga rawan memicu aksi profit taking, terutama jika muncul sinyal deeskalasi. Jika Brent mampu bertahan di atas US$100, target berikutnya berpeluang menuju US$102–US$105. Sebaliknya, jika gagal bertahan, koreksi ke US$98–US$96 masih terbuka. (asd)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF