Goldman Bunyikan Alarm: Brent Bisa Tembus US$120

🏠 Beranda Berita Goldman Bunyikan Alarm: Brent Bisa Tembu…

Oil

Goldman Bunyikan Alarm: Brent Bisa Tembus US$120

📅 2026-09-08   🕐 20:00   ⏱️ 2 menit baca   📰 Sumber: newsmaker.id💬 WA📘 FB🐦 X

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent dan West Texas Intermediate setelah memperkirakan gangguan pengiriman energi di Timur Tengah dapat berlangsung hingga tahun depan. Brent di tengah telah bergerak mendekati US$100 per barel, bahkan sempat mencapai sekitar US$99,46, sementara WTI menyentuh sekitar US$94,73 akibat meningkatnya risiko pasokan dari kawasan Teluk.

Tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menaikkan proyeksi Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 jatuh ke US$85 dan US$80 per barel untuk Desember 2026. Untuk 2027, proyeksi keduanya dinaikkan menjadi masing-masing US$80 dan US$75 per barel. Market juga semakin memperhitungkan konflik berkepanjangan, dengan probabilitas berbasis pasar opsi bahwa Brent akan berada di atas US$100 pada Maret 2027 meningkat menjadi sekitar 25%, dari hanya sekitar 6% sebulan di awal.

Meski demikian, Goldman menilai revisi tersebut masih relatif moderat karena persediaan minyak komersial OECD belum mengalami penurunan besar sejak perang dimulai. Kekurangan pasokan yang terjadi lebih kecil dari perkiraan sejak awal karena peringkat mampu beradaptasi, sementara penarikan persediaan banyak terjadi pada cadangan strategis, minyak yang berada di laut, serta stok China.

Pasokan Timur Tengah juga ditaksir terus

Pasokan Timur Tengah juga ditaksir terus beradaptasi kepada gangguan. Goldman memperkirakan produksi dapat mulai pulih secara bertahap pada semester kedua 2027 dengan bertambahnya jalur pipa baru dan peningkatan aliran minyak melalui jalur alternatif. China juga masih memiliki persediaan besar sehingga kenaikan harga berpotensi menekan pembelian negara tersebut dan membatasi reli minyak lebih jauh.

Namun, risiko bagi proyeksi Goldman masih condong kuat ke sisi atas, khususnya dalam jangka pendek. Dalam skenario ketika serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Laut Merah semakin luas serta produksi Teluk tetap sekitar 4 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, Brent berpotensi melampaui US$120 per barel. Goldman sejak lama juga memperingatkan bahwa meningkatnya serangan terhadap kapal merupakan salah satu risiko terbesar bagi peringkat minyak.

Sebaliknya, jika produksi kawasan Teluk pulih lebih cepat dan mampu berada sekitar 1 juta barel per hari di atas level sebelum perang, Brent berpotensi turun menuju kisaran US$60-an pada 2027. Kondisi tersebut menjelaskan bahwa arah minyak dalam beberapa kuartal mendatang akan sangat bergantung pada seberapa cepat arus energi melalui Hormuz dapat kembali normal. (arl)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📰 Sumber asli: Newsmaker.id

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF