Sanksi Iran Dianggap Lunak, Minyak Anjlok Hampir 4%

📅 2026-08-27
🕐 08:00
📰 Sumber: Newsmaker.id

Harga minyak ditutup turun tajam pada perdagangan Selasa (25/8) dan menyentuh level terendah dalam sepekan setelah peringkat menilai kampanye sanksi terbaru Amerika Serikat kepada Iran belum cukup kuat untuk langsung mengganggu pasokan. Brent merosot US$3,59 atau 3,9% ke US$88,58 per barel, sementara WTI turun US$2,65 atau 3,1% ke US$82,36 per barel.

Tekanan jual muncul setelah investor melihat perubahan pendekatan Washington dari konflik militer menuju tekanan ekonomi sebagai risiko yang lebih rendah bagi pasokan energi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memang mengumumkan perluasan sanksi, tetapi belum mengungkap negara sasaran maupun waktu penerapannya dan masih memberikan kesempatan bagi mitra dagang Iran untuk menyesuaikan diri.

Pendekatan tersebut bahkan kembali memunculkan harapan bahwa AS dan Iran dapat kembali ke meja perundingan. Kondisi pasar deeskalasi semakin naik setelah Iran dan Oman membahas pembentukan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz, termasuk rencana pembersihan ranjau untuk memulihkan lalu lintas kapal melalui jalur energi strategis tersebut.

Namun, risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya

Namun, risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang. Iran telah mengancam akan membalas sanksi AS, sementara China sebagai pembeli terbesar minyak Iran menegaskan hubungan dagangnya dengan Teheran dilakukan sesuai hukum internasional. Sebuah kapal tanker juga dilaporkan terkena proyektil di dekat Oman, menjelaskan ancaman keamanan maritim masih nyata.

Aktivitas pelayaran melalui Hormuz bahkan masih sangat terbatas. Hanya dua kapal tanker yang mencapai melintasi selat tersebut pada Senin, jumlah harian terendah sejak awal Mei. Sebelum konflik Iran dimulai, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga setiap eskalasi baru tetap berpotensi mengguncang harga minyak dengan cepat.

Analisa Newsmaker: penurunan lebih dari 3% memaparkan peringkat sedang memangkas premi risiko geopolitik setelah tekanan AS bergeser ke jalur ekonomi dan peluang diplomasi mulai terbuka. Namun, koreksi ini berpotensi terlalu agresif karena risiko Hormuz belum benar-benar selesai. Jika pembicaraan Iran-Oman berkembang positif, minyak masih berpeluang tertekan. Sebaliknya, serangan Iran kepada instalasi AS atau gangguan baru terhadap pelayaran dapat memicu rebound harga yang tajam. (arl)

Disclaimer: Artikel ini dikutip dari sumber berita untuk tujuan informasi. Segala keputusan investasi harus berdasarkan pertimbangan matang dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.

📈 Mulai Trading Sekarang

Bergabung dengan PT Bestprofit Futures — broker resmi Bappebti untuk perdagangan berjangka komoditi.

📰 Artikel bersumber dari sumber berita terpercaya • Diterbitkan oleh PT Bestprofit Futures

By IT EF