Dolar AS bangkit setelah sempat menyentuh level terendah 2025 menyusul pemangkasan suku bunga The Fed.
Bloomberg Dollar Spot index berbalik naik 0,2% setelah sebelumnya turun hingga 0,4%, ke posisi terlemah sejak Maret 2022. Pergerakan berfluktuasi saat Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan risiko inflasi yang persisten perlu dikelola, sembari mengakui tanda-tanda pelemahan Pasar tenaga kerja.
Menurut Jayati Bharadwaj, strategis di TD Securities, nada Powell yang “lebih seimbang” serta ketiadaan wacana pemangkasan 50 bps membantu menopang Dolar. Dengan kata lain, Pasar membaca Fed tidak tergesa-gesa memangkas agresif meski siklus pelonggaran telah dimulai.
Rapat The Fed kali ini berlangsung di tengah melemahnya data tenaga kerja dan meningkatnya tekanan politik dari Presiden Donald Trump agar suku bunga dipangkas. Nada Powell kali ini dinilai kurang dovish dibanding pidatonya di simposium Jackson Hole bulan lalu—yang sempat menyulut ekspektasi pemotongan lebih besar.
Data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS mendingin pada Agustus, dengan tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak 2021.
Revisi data juga mengindikasikan penciptaan pekerjaan setahun hingga Maret jauh lebih lemah dari perkiraan awal menambah alasan kehati-hatian, namun tidak cukup untuk menggoyahkan rebound jangka pendek Dolar.(yds)
Sumber: Bloomberg.com
