Harga Emas turun pada Senin (11/8) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Emas batangan impor tidak akan dikenakan Tarif, sementara investor menunggu rilis data inflasi AS yang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Kontrak berjangka Emas AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 2,5% menjadi $3.404,70 per ons.
Harga Emas sempat mencapai rekor tertinggi pada Jumat lalu setelah muncul laporan bahwa Washington mungkin akan memberlakukan Tarif impor khusus untuk jenis Emas batangan yang paling banyak diperdagangkan di AS.
Namun, dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosialnya pada Senin, Trump menegaskan bahwa Emas tidak akan dikenakan Tarif, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Menurut Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, Pasar mungkin menjadi sedikit lebih bearish karena ketidakpastian ini sudah terjawab. “Para trader akan beralih fokus ke hal lain, dan hal itu justru bisa positif bagi Emas karena prospek penurunan suku bunga di AS dalam waktu dekat,” ujarnya.
Harga Emas spot turun 1,2% menjadi $3.358,33 pada pukul 13:52 waktu AS (17:52 GMT).
Dari sisi data, inflasi konsumen AS (CPI) akan dirilis Selasa, disusul data inflasi produsen (PPI) pada Kamis. Wyckoff menambahkan, jika data inflasi pekan ini lebih tinggi dari perkiraan, The Fed bisa saja menunda pemangkasan suku bunga September, yang akan berdampak negatif bagi Emas.
Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan baru-baru ini telah meningkatkan taruhan trader terhadap pemangkasan suku bunga September.
Sementara itu, tenggat waktu kesepakatan dagang AS–Tiongkok pada 12 Agustus dan pertemuan Trump–Putin pada 15 Agustus di Alaska untuk membahas perang Ukraina turut menjadi sorotan Pasar.
Emas cenderung berkinerja baik di masa ketidakpastian dan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Untuk logam mulia lainnya, Perak spot turun 1,4% menjadi $37,78, platinum melemah 0,4% ke $1.326,09, dan paladium naik 2,1% ke $1.149,25.(yds)
Sumber: Reuters
