Harga Minyak menuju penurunan mingguan terbesar sejak Juni, karena para pedagang yakin upaya AS untuk mengakhiri perang di Ukraina tidak akan memengaruhi pasokan Minyak. Harga Brent untuk pengiriman Oktober stabil di $66,42 per barel pada pukul 11.58 pagi di Singapura.
WTI untuk pengiriman September sedikit berubah di $63,84 per barel. Meskipun Washington memberlakukan sanksi terhadap India karena mengimpor Minyak Rusia, dampaknya terhadap pasokan global dianggap terbatas.
Awal pekan ini, Presiden Trump menggandakan Tarif impor India menjadi 50% sebagai penalti atas pembelian Minyak Rusia, yang mendorong perusahaan Minyak milik negara India untuk menahan diri dari pembelian dan mencari sumber alternatif. Selain itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Tarif juga dapat dikenakan pada Tiongkok, yang membeli energi dari Rusia.
Setelah tiga bulan menguat, Harga Minyak turun pada bulan Agustus. Investor waspada terhadap potensi kelebihan pasokan akhir tahun ini setelah OPEC+ melonggarkan pembatasan produksi. Sinyal perlambatan ekonomi AS akibat kebijakan Tarif Trump juga menekan permintaan energi.
Analis energi Gao Mingyu mengatakan perundingan positif AS-Rusia dan rencana pertemuan tatap muka antara Trump dan Putin telah meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan Rusia, sehingga menurunkan premi risiko geopolitik. Hal ini menyebabkan Pasar beralih ke sentimen bearish, dengan melemahnya fundamental penawaran dan permintaan. (ayu)
Sumber: Newsmaker.id
