Dolar AS menguat tipis 0,1% pada Jumatdisesi Eropa dan berada di jalur untuk mencatatkan Penguatan mingguan sekitar 2,5% — performa terbaiknya sejak September 2022. Kenaikan ini didorong oleh kebijakan Tarif baru dari Presiden Donald Trump, sinyal agresif dari Federal Reserve, serta data ekonomi AS yang tetap solid.
Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan Tarif baru hingga 50% terhadap puluhan negara, mulai berlaku pada 7 Agustus. Negara-negara industri besar seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan dikenai Tarif 15%, sementara negara lain seperti Brasil dikenai hingga 50%. Kanada juga terkena Tarif 35% untuk barang yang tak mematuhi perjanjian dagang regional.
Namun, Penguatan Dolar mulai terbatas menjelang rilis laporan ketenagakerjaan bulanan AS. Investor mencari sinyal apakah The Fed akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Saat ini, bank sentral AS masih mempertahankan suku bunga tetap untuk kelima kalinya berturut-turut, meski Trump mendesak pelonggaran.
Ketua Fed Jerome Powell menyebut kondisi tenaga kerja masih solid dan inflasi cukup tinggi. Data yang diperkirakan menunjukkan kenaikan tingkat pengangguran tipis dari 4,1% menjadi 4,2% dipandang belum cukup mengguncang Pasar. Jika data ketenagakerjaan keluar sesuai prediksi, analis memperkirakan Dolar akan cenderung konsolidasi setelah reli tajam minggu ini.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id

By IT EF